Konkritnya di tahun ini mulai dikembangkan 116 kawasan padi, 80 kawasan jagung dan 44 kawasan kedelai. Dari kawasan yang dikembangkan itu tadi, Kementan akan membuat show window kawasan dengan skala luas 50 rb hektar.
"Contohnya, nanti ada di Jabar, Sulsel dan Sumsel, Jatim, Lampung, Jateng dan NTB. Show window ini tentu akan kita kawal terus sebagai proyek percontohan pertanian berbasis korporasi,” tambah Suwandi.
Dijelaskan lebih lanjut sebenarnya selama ini sudah ada beberapa program korporasi yang sudah jalan. Contohnya korporasi perbenihan yang ada di Tuban, Lampung Timur, Minahasa Tanah Laut dan Bone dengan luas total 1.075 hektar. Korporasi perbenihan yang sudah dibangun ini bahkan sudah bekerjasama dengan industri untuk menyerap hasil petani. Harga di tingkat petani jadi terjaga dan pemasaran sudah jelas. Yang terpenting adalah memastikan suplai selalu ada.
Langkah selanjutnya, menurut Suwandi perlu adanya sinergi program Pro Paktani dengan pembiayaan, investasi dan ekspor. Kawasan dan klaster memanfaatkan lokasi yang telah ada, ditata dan dioptimalkan, sumber pendanaan dari swadaya, KUR dan pembiayaan lainnya.
“Pengembangan kawasan ini jangan hanya bertumpu pada APBN dan APBD, masih ada sumber-sumber lainnya yang bisa dimanfaatkan seperti KUR. Ada 14,23 Triliun dana KUR yang siap diserap. Selain itu ada juga dari BLU dan LPDB,” ujarnya.