Kenyataan yang ada saat ini kata dia, para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah sulit mendapatkan akses perbankan. Namun kondisi itu berbanding terbalik dengan pelaku usaha besar. "Selain persoalan bankable (nasabah yang memenuhi persyaratan bank) atau tidaknya, hal lain adalah mengenai pemihakan," tuturnya.
Baca Juga : Ditarik Kejagung, Jaksa Yadyn Akui Tahu Banyak Kasus Suap Harun Masiku
Said mencontohkan, kasus gagal bayar beberapa perusahaan asuransi seperti Jiwasraya, Bumi Putera, dan Asabri menunjukkan bahwa buruknya pengelolaan industri asuransi di Indonesia.
"Kesalahan penempatan investasi hingga rekayasa saham overprice (harga tinggi) merupakan satu diantara sekian kedzaliman ekonomi yang tidak boleh terjadi," tuturnya.
Untuk itu kata dia, NU berharap agar kondisi tersebur tidak sampai mengarah pada hilangnya kepercayaan masyarakat pada industri asuransi. "Nahdlatul Ulama bukan anti-konglemerat. Jadilah konglomerat yang merangkul ekonomi mikro, kecil dan menengah. Jika kelas menengah terangkat, kelas kecil dan mikro pun harus demikian," tukasnya.
(Angkasa Yudhistira)