BANDA ACEH - Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh menggelar seminar membahas sejarah Aceh. Pada abad 17, Aceh yang masih berstatus negara kesultanan saat itu tercatat pernah berjaya dalam segi politik maupun perdagangan.
“Aceh pernah menjadi salah satu kesultanan Islam yang paling sukses di Nusantara, baik di bidang politik, ekonomi dan intelektual,” kata Peniliti sejarah Aceh Mawardi Umar dalam seminar yang digelar Unsyiah Yayasan Sukma Bangsa dan Forum bersama (Forbes) DPR dan DPD RI asal Aceh di Aula lantai 3 Gedung FKIP Unsyiah, Banda Aceh, Sabtu (15/2/2020).
Dalam seminar bertema Keacehan ‘Kearifan masa lalu kejayaan masa depan’, Marwardi menyebut pada abad ke 17, Aceh menjadi kekuatan politik dan ekonomi terkuat di bagian barat Nusantara yang mampu membendung perkembangan kolonial Portugis.
“Keungulan yang dimiliki Aceh tersebut pelahan mengalami kemunduran yang diawali masuknya kolonial Belanda hingga terjadi pelawanan puluhan tahun. Hampir seluruh infrastruktur ekonomi hancur dan sosial budaya mengalami kemunduran.

Mawardi menilai, kejayaan masa lalu Aceh tidak terlepas dari kecerdasan rakyat Aceh yang saat itu memanfaatkan keuntungan posisi geografis Aceh sebagai pintu masuk Selat Malaka yang sangat penting peranananya sebagai jalur pelayaran internasional.
“Aceh saat itu tidak hanya sebagai pusat pemerintah yang kuat, namun juga menjadi pusat perdagangan dan peradaban.
Hal senada juga dikatakan Qismullah Yusuf, staf pengajar Ilmu Sejarah Universitas Syiah Kuala. Menurutnya, Aceh masa lampau juga telah melakukan hubungan diplomasi dengan negara-negara di Eropa seperti Inggris, Turki dan Belanda.
“Pada Abad 16-17 Kesulatanan Aceh mengirim empat orang utusannya ke Belanda yang di pimpin Tuanku Abdul Hamid untuk mengakui kedaulatan Belanda setelah bebas dari Spanyol. Akhirnya, pada 10 Agustus 1602, Tuanku Abdul Hamidi meninggal di Amsterdam,” sebut Qismullah Yusuf.