nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Kampung di Boyolali Bernama Koplak

Agregasi Solopos, Jurnalis · Senin 24 Februari 2020 16:12 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 02 24 512 2173336 kisah-kampung-di-boyolali-bernama-koplak-qc5ug93iy8.jpg Perkampungan di Boyolali. (Foto: Solopos)

BOYOLALI – Sebuah kampung di Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, memiliki nama unik. Lokasi tersebut bernama Kampung Koplak. Letaknya berada di pusat Kabupaten Boyolali, tepatnya di Jalan Pandanaran, Kelurahan Siswodipuran, Kecamatan Boyolali.

Di sisi sebelah timur, Kampung Koplak berbatasan langsung dengan Kampung Tegalsari. Kemudian berbatasan dengan Kampung Pulisen di sisi barat, Kampung Gudang di bagian utara, serta Kampung Surodadi di sebelah selatan.

Kampung Koplak memiliki kontur jalanan yang naik-turun dengan dipenuhi bangunan bergaya arsitektur cukup modern.

Jika dilihat sekilas, tidak ada hal berbeda dari Kampung Koplak dengan daerah lainnya. Namun, Kampung Koplak diyakini menjadi pusat terminal andong ketika masa kolonial Belanda dahulu.

Lantas, bagaimana tempat ini bisa disebut Kampung Koplak?

Mengutip dari Solopos, Senin (24/2/2020), Ichsanudin yang merupakan sesepuh di sana mengungkapkan belum pernah ada data valid terkait sejarah penamaan Kampung Koplak.

Terminal Andong

Warga lokal meyakini arti kata Koplak adalah tempat pemberhentian andong atau gerobak. Pasalnya pada 1925, jelas Ichsanudin, ada terminal pemberhentian andong di wilayah RW 03 Kampung Koplak. Kini lahan bekas terminal andong itu berubah menjadi rumah warga.

Keberadaan terminal andong erat kaitannya dengan Pasar Kota Boyolali yang kala itu menjadi pusat perdagangan. Terminal andong juga dipakai menjadi tempat menginap para pedagang yang berasal dari luar kota.

Bahkan, ungkap dia, Kantor Dinas Kesehatan yang berjarak 100 meter dari Pasar Kota Boyolali ketika zaman itu difungsikan sebagai rumah sakit khusus ibu dan anak.

Permukiman Warga Tionghoa

Dilaporkan, Kampung Koplak dahulu juga dikenal sebagai pusat permukiman masyarakat Tionghoa. Hal itu ditandai dengan kampung ini pernah memiliki Gedung Bulu Tangkis Tachung dan Sekolah Cung Hwa Cung Hwe.

Gedung bulu tangkis ini menempati bekas gudang yang dimiliki warga keturunan Tionghoa. Sementara sekolah bagi warga Tionghoa pernah berdiri di sana sekira 1949.

Sekolah tersebut juga dikelola yayasan komunitas Tionghoa. Sekolah ini menampung anak-anak pedagang di lingkungan pasar.

Ketika itu warga Tionghoa dari berbagai kota seperti Wonogiri dan Solo berdatangan ke Kampung Koplak Boyolali.

Sayangnya sekolah mengalami kebakaran pada 1960. Dilaporkan, tidak banyak yang bisa diketahui terkait riwayat warga keturunan Tionghoa di Boyolali.

"Masih harus dilakukan penelitian lebih lanjut," jelas Ichsanudin.

Sementara seorang warga Kampung Koplak bernama Suryadi (45) mengatakan justru tidak tahu jika kampungnya memiliki sejarah panjang, terutama terkait perdagangan di Boyolali.

"Kalau dari zaman saya kecil, dominasi warga merupakan masyarakat Jawa," ungkapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini