Armenia Karantina Pasien Terduga Virus Korona di Hotel Bintang Lima

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 03 Maret 2020 16:54 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 03 03 18 2177555 armenia-karantina-pasien-terduga-virus-korona-di-hotel-bintang-lima-hrEmDUeOKR.jpg Golden Palace Hotel di Yerevan. (Foto: Booking.com)

YEREVAN - Menjalani karantina karena dicurigai terinfeksi virus korona adalah hal yang tidak menyenangkan bagi banyak orang, tetapi di Armenia hal itu mungkin sedikit terobati karena para pasien diduga terinfeksi korona ditempatkan di sebuah hotel bintang lima.

Armenia menempatkan 32 orang dalam karantina setelah mereka melakukan kontak dengan seorang pria Armenia positif Covid-19 yang tiba dari Iran pada akhir pekan. Namun, perlakukan yang diterima para pasien yang dikarantina itu jauh berbeda dengan yang diterima pasien di negara lain.

"Warga negara kita, terisolasi karena virus korona, disediakan dengan semua yang dibutuhkan, termasuk makanan, di hotel bintang 5... Kontak mereka dengan dunia luar dikesampingkan," tulis Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan di Facebook sebagaimana dilansir Russia Today, Senin (3/3/2020).

Pashinyan mem-posting rekaman yang memperlihatkan para petugas medis dengan pakaian hazmat membagikan makanan kepada orang-orang di suite mewah. Tidak ada tamu lain di hotel kecuali mereka yang dikarantina, "tidak ada yang memiliki gejala," katanya. "Mereka semua merasa baik-baik saja."

Hotel yang menjadi lokasi karantina terletak di daerah pegunungan, 2.100 meter di atas permukaan laut, di resor ski yang populer, 50 kilometer dari Ibu Kota, Yerevan. Hotel itu spa dengan kolam renang besar, ruang cerutu, dan bahkan kasino.

Sayangnya untuk orang-orang di karantina, semua ini tidak banyak berarti karena mereka jelas tidak diizinkan meninggalkan kamar mereka.

Berdasarkan laporan terbaru, lebih dari 3.000 orang telah meninggal akibat virus korona, dan lebih dari 90.000 pasien telah dikonfirmasi terinfeksi. Sejak mulai dideteksi pada akhir tahun lalu, virus korona baru ini telah menyebar ke 53 negara di seluruh dunia.

(dka)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini