3.152 Warga Bengkulu Positif DBD, 20 Orang Meninggal Dunia

Demon Fajri, Okezone · Selasa 10 Maret 2020 15:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 10 340 2181089 3-152-warga-bengkulu-positif-dbd-20-orang-meninggal-dunia-QVhJNU4Xu1.jpg Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, Neli Hartati (foto: Okezone/Demon Fajri)

BENGKULU - Petugas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, menghitung dalam kurun waktu 9 tahun terakhir, sebanyak 3.152 warga di 9 kecamatan Kota Bengkulu, positif terinfeksi virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti atau demam berdarah dengue (DBD).

Rinciannya, pada 2012 sebanyak 472 orang, pada 2013 sebanyak 177 orang, pada 2014 sebanyak 234 orang, di tahun 2015 sebanyak 359 orang. Kemudian, di 2016 sebanyak 850 orang.

Baca Juga: DBD Terus Makan Korban, Gubernur NTT Instruksikan Tim Medis Siaga 1 

Lalu, pada tahun 2017 sebanyak 287 orang, di 2018 sebanyak 431 orang, pada 2019 sebanyak 301 orang dan pada tahun 2020 sebanyak 41 orang (Januari hingga 10 Maret 2020).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 orang meninggal dunia akibat DBD. Mulai dari kalangan bayi lima tahun (balita), remaja hingga dewasa, yang tersebar di 9 kecamatan dalam Kota Bengkulu.

Ilustrasi (foto: Shutterstock) 

Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bengkulu, Neli Hartati mengatakan, pada tahun 2016, warga Kota Bengkulu positif terinfeksi virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti mencapai 850 orang.

Ratusan warga positif DBD tersebut menjadikan Kota Bengkulu sebagai Kejadian Luar Biasa. Di mana pada tahun 2016, sebanyak 11 orang meninggal dunia akibat DBD.

"Untuk tahun ini (2020), sebanyak 41 orang positif DBD. Itu dari kalangan anak-anak hingga dewasa. Kota Bengkulu sempat menjadi KLB DBD pada 2016. Sebab yang positif DBD sebanyak 850 orang," kata Neli, saat ditemui Okezone di ruang kerjanya, Selasa (10/3/2020).

Warga Kota Bengkulu yang positif terinfeksi virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti, kata Neli, sebanyak 20 orang meninggal dunia, terhitung sejak 2016. Rinciannya, pada 2016, sebanyak 11 orang meninggal dunia

Lalu, di tahun 2017 sebanyak 2 orang, pada tahun 2018, 4 orang meninggal dunia, di 2019 sebanyak 3 orang. Namun, untuk di tahun 2020, tidak ada yang meninggal dunia akibat DBD.

"Saat KLB 2016, 11 orang meninggal dunia akibat DBD. Angka itu menurun di tahun 2017. Namun, di 2018 dan 2019 orang meninggal kembali naik," jelas Neli.

Kasus warga positif terinfeksi virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti di Kota Bengkulu, sampai Neli, terbanyak di daerah Puskesmas Telaga Dewa Kecamatan Selebar Kota Bengkulu.

Di mana di daerah tersebut, terang Neli, banyak rumah tinggal atau tidak berpenghuni. Sehingga membuat jentik nyamuk berkembang biak secara cepat. Bahkan, kata Neli, di daerah tersebut warga setempat tidak ada memeriksa jentik (jumantik) nyamuk.

"Di daerah itu (Puskesmas Telaga Dewa) banyak rumah tinggal. Sehingga jumantik nyamuk cepat berkembang biak. Belum lagi pemantauan jumantik tidak ada. Namun, di daerah kecamatan lainnya juga ada yang positif DBD," terang Neli.

Untuk mencegah penyebaran virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti, lanjut Neli, pihaknya telah membagikan bubuk abate (larvasida temephos) ke 20 puskesmas di Kota Bengkulu.

Baca Juga: 15 Warga Jabar Meninggal Akibat DBD pada Awal Tahun Ini 

Neli menambahkan, setiap puskesmas sudah dibagikan 10 kilogram (Kg) bubuk abate. Dengan total secara keseluruhan 200 kg untuk 20 puskesmas yang tersebar di 9 kecamatan di Kota Bengkulu.

"Setiap ada laporan, dari Puskesmas akan turun ke lapangan dan memberikan bubuk abate kepada masyarakat," pungkas Neli.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini