Tak Ada Jembatan, Warga Maros Harus Bertaruh Nyawa Seberangi Arus Deras Sungai

Herman Amiruddin, Okezone · Rabu 11 Maret 2020 04:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 11 609 2181366 tak-ada-jembatan-warga-maros-harus-bertaruh-nyawa-seberangi-arus-deras-sungai-m1NQBWzNaH.jpg Warga Maros kesulitan akses jembatan (Foto: Okezone/Herman)

MAKASSAR - Tidak ada jembatan, warga di Pelosok Maros, Sulawesi Selatan sudah bertahun-tahun lamanya tak dapat menikmati akses jalan memadai menuju ke kampungnya.

Warga tiap harinya bertaruh nyawa melawan arus sungai yang beresiko, untuk bisa sampai ke tempat kerja maupun kembali ke kampung usai beraktivitas, utamanya bagi anak sekolah usai menuntut ilmu.

Sebelum tiba ditepi sungai, warga ini sudah berjibaku melewati jalan tanah yang rusak. Tak sedikit diantara mereka yang kelelahan usai menyebrangi sungai karena beratnya barang bawaan yang dipikul atau bisa terpeleset dalam kubangan arus sungai.

Utamanya bagi anak sekolah di kampung Dusun Makmur ini mereka harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai besar untuk sampai ke sekolah demi menuntut ilmu.

"Soalnya belum ada jembatan dibangun disini, karna saya dari kecil di sini belum ada jembatan di sini sampai saya tamat SMA belum ada jembatan," kata warga Dusun Makmur, Saprianto kepada Okezone saat ditemui di tepi sungai Selasa 10 Maret 2020.

Tak tanggung-tanggung, kata Saprianto sungai yang diseberangi oleh warga dan anak sekolah ini, arusnya sangat deras dan memiliki kedalaman setinggi dada orang dewasa.

Bahkan jika ada warga di dalam Dusun Makmur yang sakit dan perlu di bawa ke rumah sakit, warga di sini akan bergotong royong saling membantu untuk mengantar tetangganya untuk berobat melewati sungai.

"Ya kalau ada orang sakit terpaksa dia dikasih menyebrang baru kita bawa di rumah sakit. Selain jalan ini tidak ada lagi ada tapi jauh sekitar 30 kiloan lah lewat hutan dan gunung," ungkap Saprianto.

Bagi anak sekolah, untuk bisa sampai ke sekolah tepat waktu, mereka kembali harus berjuang, menantang derasnya arus sungai yang sewaktu-waktu dapat menghanyutkan mereka jika tidak berhati-hati saat menyeberang.

Ini karena tidak adanya fasilitas memadai, infrastruktur jembatan penghubung antar dusun berupa jembatan gantung, seperti yang ada di desa lainnya yang ada di Kabupaten Maros.

Setiap hari warga Dusun Makmur menyebrangi sungai berarus deras, lantaran tidak ada jalan alternatif lain yang lebih dekat menuju ke kampung maupun sebaliknya.

Warga setempat tidak punya pilihan lain, sungai ini yang menjadi satu-satunya akses yang bisa mereka lalui. Sementara itu jembatan yang telah lama dinanti warga dusun tak kunjung dibangun oleh pemerintah.

"Harapan saya mau minta saja untuk dibangunkan jembatan disini karna warga dan anak sekolah di sini kalau pergi sekolah juga tidak lancar sekolahnya. Di sini banyak anak sekolah," harap Saprianto.

Jika musim penghujan datang, kata Saprianto air sungai akan naik, hanya sedikit warga yang bernyali berangkat bekerja maupun siswa yang menuntut ilmu sekolah.

"Ya kalau air naik warga tidak usah meneyebrang tetap di kampung ya kalau warga yang berani ya tetap menyebrang. Belum ada korban tapi ini membahayakan," ujar Saprianto.

Sebelumnya, baru-baru ini, Dusun Makmur, Desa Bontomanurung, Tompobulu, Maros ramai dibicarakan, pasca adanya pejabat legislator DPRD Sulsel yang berkunjung dan merasakan kesulitan menyeberang sungai.

Legislator tersebut, rencana akan melapor ke Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah untuk dianalisis apakah pembangunan jembatan merupakan domain Pemprov ataukah Pemkab Maros.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini