Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Presiden Jokowi Serukan Tes Cepat dan Massal, Indonesia Bisa Contoh Korea Selatan

Rachmat Fahzry , Jurnalis-Kamis, 19 Maret 2020 |18:36 WIB
Presiden Jokowi Serukan Tes Cepat dan Massal, Indonesia Bisa Contoh Korea Selatan
Warga Korea Selatan uji tes corona melalui bilik. (Foto/AFP)
A
A
A

Lebih dari 8.500 orang telah didiagnosis mengidap virus corona di Korea Selatan pada 19 Maret, dan hampir tiga perempat dari kasus tersebut terkonsentrasi di Daegu.

Sedangkan secara global, merujuk data WHO, Covid-19 telah menjangkiti lebih dari 190.000 dan menewaskan hampir 8.000 orang.

Hampir 3.000 orang telah meninggal di Italia, 1.135 di Iran dan 638 di Spanyol. Bahkan korban meninggal di AS telah melampaui korban di Korea Selatan.

Meski begitu, para ahli medis Korsel mengingatkan agar tidak terlalu percaya diri.

"Sulit untuk mengatakan bahwa pemerintah Korea Selatan telah berhasil mengendalikan virus corona," kata Roh Kyoung-ho, seorang dokter yang bekerja di Departemen Kedokteran Laboratorium di Layanan Asuransi Kesehatan Nasional Rumah Sakit Ilsan.

Tes massal

Namun demikian, keberhasilan Korea Selatan dalam mengendalikan epidemi mendapat pujian dari seluruh dunia.

Foto/Okezone

Ketika para ilmuwan China pertama kali mempublikasikan urutan genetik virus Covid-19 pada Januari, setidaknya empat perusahaan Korea Selatan secara diam-diam mulai mengembangkan dan menimbun alat tes bersama pemerintah, jauh sebelum negara itu mengalami wabah pertama.

Pada saat keadaan memburuk, negara tersebut memiliki kemampuan untuk menguji lebih dari 10.000 orang per hari, termasuk memperkenalkan pengujian drive-thru darurat dan bilik telepon di rumah sakit.

Siapa pun yang memiliki ponsel di negara itu juga menerima peringatan mengenai riwayat perjalanan pasien yang terinfeksi virus corona. Sehingga warga dapat menghindari area yang terpapar virus.

Pada saat yang sama, pemerintah Korea Selatan juga membuat aplikasi berkemampuan GPS untuk memantau mereka yang dikarantina dan membunyikan alarm jika mereka kabur.

Wisatawan yang memasuki negara tersebut juga diminta untuk mencatat gejala mereka pada aplikasi yang disponsori negara.

Tidak seperti negara lain, Korea Selatan juga berhasil membalikkan wabah tanpa menutup kota (lockdown) atau melarang perjalanan. Bahkan, istilah jarak sosial (sosial distance) pertama kali digagas Presiden Korea Selatan Moon Jae-in saat kampanye melawan virus.

"Karena Korea memiliki kemampuan untuk mengambil sampel dan menguji lebih cepat daripada di negara lain, tidak ada alasan untuk melakukan apa yang dilakukan negara lain [dan lockdown]," kata Dr. Roh.

"Metode menutup daerah-daerah tertentu dan menghentikan pergerakan dilakukan orang-orang di Abad Pertengahan ketika mereka berurusan dengan wabah Black Death. Hal itu karena mereka tidak tahu apa yang menyebabkan infeksi pada saat itu, dan mereka tidak tahu di mana penyakit itu menyebar," tuturnya.

Setidaknya 15 perusahaan Korea Selatan berlomba untuk mengembangkan vaksin dan perawatan lain untuk Covid-19. Beberapa berusaha mengembangkan kit pengujian untuk digunakan orang di rumah.

Hwang memperkirakan baru sekitar paruh kedua 2021 vaksin akan tersedia untuk umum.

"Kita harus tetap fokus pada perjuangan kita melawan krisis ini sampai saat itu," katanya.

(Rachmat Fahzry)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement