"Saya ucapkan terima kasih banyak kepada pihak swasta yang sudah bersedia membantu. Kita semua berusaha bersama semaksimal mungkin sesuai dengan arahan Pak Presiden, untuk mengatasi dampak dari pandemik ini," kata Erick.
Tak hanya di sisi kesehatan, langkah antisipasi juga disiapkan Kementerian BUMN di sektor ekonomi. Erick menyadari banyak sektor ekonomi yang terpukul gejolak akibat pandemik yang melanda dunia. Sektor terparah yang terdampak adalah hotel, restoran, pariwisata, dan penerbangan. Karena itu, Kementerian BUMN akan berkoordinasi dengan lembaga terkait untuk segera meluncurkan kebijakan yang membantu industri yang terdampak itu.
"Tak hanya kesehatan, tapi kita juga memastikan agar sektor bisnis bisa tetao jalan. kita pastikan bank-bank BUMN turunkan suku bunga UKM. Kita juga berkoordinasi dengan lembaga lain yang terkait agar ada relaksasi untuk sektor-sektor terdampak seperti hotel, pariwisata, penerbangan, restoran yang punya pinjaman ke bank-bank BUMN agar diberi keringanan," kata Erick. Namun Erick mencatat hanya sektor usaha yang punya rekam jejak positif yang akan mendapat bantuan relaksasi dari bank.
Sementara untuk sektor moneter, pemerintah akan mengeluarkan obligasi-obligasi yang akan membantu devisa. Ini terutama pada obligasi dari perusahaan BUMN yang ratingnya bagus, seperti BRI dan Mandiri. Kementerian BUMN juga akan melakukan buy back saham-saham unggulan di saat harganya turun.
"Kita dalam proses buy back saham BUMN di bursa. Kita limit di enam perusaahn dulu seperti BRI, Mandiri, PT BA, Telkom, dan Jasamarga," kata Erick.
Terkait gejolak nikai tukar rupiah terhadap dolar, Erick mengakui hal itu akan memberikan dampak pada sejumlah sektor bisnis. Ini terutama pada bisnis penerbangan, seperti Garuda. Namun Erick memastikan terkait pinjaman Garuda, pihaknya sudah melakukan renegosiasi secara menyeluruh.