Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Kisah Kurir Makanan Bekerja di Tengah Wabah Corona demi Balas Jasa Tenaga Medis

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Selasa, 14 April 2020 |10:29 WIB
Kisah Kurir Makanan Bekerja di Tengah Wabah Corona demi Balas Jasa Tenaga Medis
Li Yan bekerja untuk membalas jasa para dokter dan perawat yang merawatnya saat dia mengidap kanker. (Foto: Li Yan)
A
A
A

Pada masa sekarang, Meituan menyediakan opsi layanan pengantaran di titik tertentu sehingga pemesan bisa mengambil pesanan tanpa berkontak dengan kurir.

"Saat saya menghubungi pelanggan untuk menjelaskan, awalnya beberapa orang tidak paham dan ingin membatalkan pesanan. Namun secara bertahap orang-orang memahami dan menyambut pendekatan tanpa kontak,"paparnya.

Jalan-jalan kosong 

China memberlakukan karantina wilayah atau lockdown selama lebih dari dua bulan, meski di beberapa daerah seperti Wuhan, lockdown telah dicabut. Bagaimanapun, perlu waktu agar semuanya berjalan seperti sediakala. 

"Saya ingat ketika virus corona pertama kali mewabah di Beijing. Jalan-jalan kosong, toko-toko ditutup. Mobil ambulans atau kurir sesekali melintas. Saya merasa hidup di dunia lain," tutur Li.

Menurut Li, restoran-restoran mulai buka dan khalayak kembali bekerja di kantor, untuk pertama kali sejak pertengahan Februari. Jumlah pesanan masih di bawah pada masa sebelum wabah Covid-19, namun perlahan membaik.

"Saya rindu hiruk-pikuk Beijing yang biasanya macet, hari-hari ketika saya bisa mencium asap knalpot di persimpangan, saat-saat ketika saya harus berjalan hingga lantai keenam untuk mengantar makanan, dan bahkan hari-hari ketika saya telat mengantar makanan."

Tatkala virus corona mewabah, masker dan cairan disinfektan adalah barang yang paling banyak dipesan selain bahan-bahan makanan.

"Beras, minyak goreng, sayuran, buah-buahan, makanan kemasan yang bertahan lama. Pesanan kerap muncul dalam jumlah banyak dan harga transaksinya bisa mencapai sekitar 200-300 yuan (Rp445.000 - Rp700.000) sekali pesan.

Foto: Li Yan.

Sebagai kurir makanan, Li merasa tidak bisa membalas jasa para tenaga kesehatan saja, tapi juga kaum rentan di Beijing.

"Saya pernah menerima pesanan dengan catatan yang menyebutkan si pelanggan berusia 82 tahun, hidup sendirian, dan tidak bisa turun ke bawah untuk mengambil makanan sehingga kurir harus mengantarkan sampai ke pintu rumahnya."

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement