
Ia pun mendesak pemerintah untuk menghentikan tugas menumpuk di rumah, karena hal tersebut justru akan membuat anak semakin tertekan di tengah Pandemi Covid-19.
“Anak sehat itu juga harus psikologinya sehat. Jangan dibebani. Kasihan anak-anak. Jika orangtua stres, anak juga stres, akhirnya terjadi konflik di dalam keluarga. Saya juga banyak mendapat laporan anak-anak yang mengadu (kalau mereka tertekan). Ini kok jadi begini, orangtua juga mengadu,” paparnya.
Kak Seto pun meminta kepada guru untuk tak membebankan anak dengan tugas yang menumpuk. Agar anak tak stres, ajarkan anak untuk melakukan sesuatu yang ia suka terlebih dahulu sebelum memulai pembelajaran.
“Mohon para guru bisa memberikan suasana yang lebih nyaman. Tugasnya juga harus kreatif aja. Misal membuat gambar, kalau anak senang nyanyi, mungkin lagu itu direkam dikirim melalui Whatsapp. Misalnya juga membuat puisi tentang corona. Membuat lukisan bagaimana aku gembira bisa selalu bersama ayah dan bunda. Buatlah susana nyaman,” ungkapnya.
Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) sejauh ini belum merespon adanya desakan untuk menunda penerimaan siswa baru. Kemendikbud hanya menyebarkan mekanisme Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang tertuang dalam Surat Edaran Mendikbud No.4 Tahun 2020.
Dalam surat edaran itu, Dinas Pendidikan dan sekolah diminta menyiapkan mekanisme PPDB yang mengikuti protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Coviod-19 dan diimbau dilaksanakan secara daring. Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbud, akan menyediakan bantuan teknis bagi daerah yang memerlukan mekanisme PPDB daring.
Tak Semua Sekolah Bisa Daring
Kemedikbud menyadari belum semua sekolah di Indonesia siap dengan sistem pembelajaran daring. Kepala Biro Komunikasi Kemendikbud Ade Erlangga Masdiana, menjelaskan pemerintah pusat akan mendorong pemerintah daerah menerapkan sistem tersebut.