nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Napi Asimilasi Bertaubat dan Memilih Berjualan Kue Lebaran

Azhari Sultan, Okezone · Senin 18 Mei 2020 12:57 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 05 18 340 2215824 kisah-napi-asimilasi-bartaubat-dan-memilih-berjualan-kue-lebaran-wo4b5n2FEg.jpg Nurmiati bersyukur bisa bebas (Foto: Okezone/Azhari)

JAMBI - Nurmaiti (43), warga Mayang, Kota Jambi sempat sujud syukur, tatkala mendapatkan program narapidana (napi) asimilasi dari pemerintah.

Wajah yang semula kerut dan suasana penuh beban dihukum pidana Pasal 372 dan 378 tentang penipuan akhirnya tersenyum semringah.

Betapa tidak, hukuman dua tahun yang dipertanggungjawankan di Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Jambi membuat dirinya tidak ketemu dengan mudah suami dan anaknya sebagai mana saat bebas.

"Alhamdulillah, bahagia, senang bisa ketemu dengan keluarga anak-anak dan suami. Karena selama ini pisah dengan keluarga, apalagi sekarang ini bulan puasa, jadi bisa kumpul dengan keluarga," ungkap Nurmaiti saat ditemui di Kantor Balai Pemasyarakatan Klas IIA Jambi di kawasan Kotabaru, Kota Jambi.

Diakuinya, selama di dalam Lapas hingga mendapatkan program asimilasi dari pemerintah tidak ada kendala dari petugas.

"Saya berterima kasih kepada petugas yang telah membantu proses pembebasan asimilasi. Mestinya, saya bebas bulan Agustus mendatang. Alhamdulillah bisa dipercepat," imbuhnya.

Selanjutnya, dia juga menceritakan usai berada di rumah tidak banyak yang dilakukannya. Namun, program asimilasi yang diberikan seiring pandemi Covid-19 di saat bulan puasa, membuat dirinya bisa menambah penghasilan.

Baca Juga: Polisi Ciduk 106 Napi Asimilasi Covid-19 yang Kembali Berulah

"Saat ini, aktivitas sehari-hari saya sekarang membuat kue kering untuk lebaran. Alhamdulillah udah banyak yang pesan selain keluarga teman orang-orang dekat di kota sini lah," tutur Nurmaiti.

Meski berstatus sudah bebas, tapi dirinya masih wajib lapor ke pihak Bapas Kemenkumham Jambi. "Saya wajib lapor seminggu satu kali. Sejak pandemi Covid-19, wajib lapornya lewat video call. Yang dibicarakan keberadaan saya, aktivitas keseharian saya," ujarnya.

Ada momen haru usai keluar dari LP, yakni disaat dirinya ketemu dengan anak-anaknya. "Saya ngobrol sampai jam 2 malam dengan anak, selama ini ada beban lantaran tidak pernah ketemu dengan anak. Saat ini sudah lega," tukasnya sembari mengusap air mata yang keluar dari kedua kelopak matanya.

Dengan kejadian ini, ibu tiga putra tersebut berharap tidak kembali lagi menghuni Lapas. "Mudah-mudahan jangan terjadi lagi," imbuhnya.

Nurmaiti juga menyampaikan, proses administrasi program asimilasi dipermudah prosesnya oleh petugas. "Saya berterima kasih sekali, selama di LP diberlakukan dengan baik, tanpa ada imbalan. Proses pembebasan kita mudah, tidak diminta apa-apa," pungkasnya.

Sedangkan Kepala Balai Pemasyarakatan Klas IIA Jambi Zulhendri menyambut baik adanya program asimilasi tersebut.

"Pada dasarnya, program asimilasi untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Mereka diminta untuk tidak kemana-mana, jadi di rumah saja," tukasnya.

Meski demikian, napi asimilasi ini masih dalam pengawasan petugas. "Mereka terus dalam pengawasan dan bimbingan. Karena masih pandemi Covid-19, pengawasan melalui data jaringan (daring), yakni video call," ujarnya.

Menurutnya, untuk saat ini pihaknya terus melakukan nasehat-nasehat. Pasalnya, dengan kondisi saat ini tidak mungkin untuk berkumpul. "Alhamdulillah, untuk komunikasi daring ini tidak ada masalah," ungkapnya.

Dia juga menceritakan, sebelum napi mendapatkan program asimilasi pihak Lapas akan mencari tahu siapa penjaminnya.

"Kita cari tahu nama alamat yang menjamin. Nomor telepon yang bisa dihubungi. Sebelum dikeluarkan napinya, masing-masing nomor kita cek kebenarannya. Kita buktikan, nomor telepon mereka aktif atau tidak. Kalau memang ada yang menyambut jelas, kita proses asimilasinya," tandas Zulhendri.

Disamping itu, lanjutnya, selama asimilasi ini tidak ada keluhan. "Semua berjalan lancar. Mereka sujud syukur dengan adanya asimilasi ini. Ini adalah kesempatan di rumah dengan keluarga. Apalagi ini bulan suci Ramadan," tuturnya.

Zulhendri juga berharapa ke depan wabah Covid-19 ini segera berakhir dan bisa kembali normal.

"Para napi asimilasi ini tidak ada pengulangan lagi. Bersyukurnya bisa di rumah kumpul bersama keluarga dan jangan nambah masalah baru sehingga merugikan banyak orang," harapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini