Walhi Pertanyakan Pengelolaan Limbah Medis Corona, Jangan Jadi Bencana Baru

Adi Rianghepat, Okezone · Senin 18 Mei 2020 16:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 18 340 2215983 walhi-pertanyakan-pengelolaan-limbah-medis-corona-jangan-jadi-bencana-baru-l8TUo36uEw.jpg Foto: Shutterstock

KUPANG - Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nusa Tenggara Timur (NTT) mendesak manajemen sejumlah rumah sakit di provinsi berbasis kepulauan itu untuk mengelola limbah infeksius, atau B3 dari fasilitas pelayanan kesehatan Covid-19 dengan baik.

Hal itu disampaikan mengingat dari sejumlah rumah sakit di daerah itu hanya dua rumah sakit memiliki izin pengelolaan limbah B3 yaitu RS St Carolus Borromeus (CB) di Kota Kupang dan RS Mgr Gabriel Manek di Atambua Kabupatrn Belu. Apalagi di NTT tak miliki perusahan jasa pengelola limbah B3 medis.

"Kami berharap kebijakan pengelolaan limbah bagi rumah sakit rujukan yang belum memiliki standar pengelolaan limbah B3 dapat dilakukan secara ketat sesuai standar yang termuat dalam surat edaran menteri, serta wajib melaporkan proses dan jumlah pengolahan limbahnya," ujar Kepala Divisi Hukum dan Advokasi Walhi NTT, Umbu Tamu Ridi.

Menurut dia, kondisi rumah sakit tanpa adanya fasilitas pengelolaan limbah B3 (bahan beracun dan berbahaya) akan berdampak sangat buruk bagi penyebaran virus tersebut ke seluruh masyarakat.

Dia mengatakan pengelolaan limbah Infeksius (limbah B3) dari fasilitas pelayanan kesehatan dampak Covid-19 harus sesuai SE.2/Men-LHK/PSLB3/PLB.3/3/2020. Untuk itu dibutuhkan kesadaran manajemen tiap rumah sakit yang ada untuk melaksanakan ketentuan ini.

"Pemerintah daerah juga masyarakat juga diajak lakukan pengawasan agar tidak menjadi bencana baru di NTT," katanya.

Dia mengatakan semua barang bekas yang dipakai pasien yang dirawat dan diisolasi di tiap-tiap rumah sakit akan menjadi sarang baru perpindahan virus ke masyarakat lainnya jika tak dikelola secara benar sesuai standar yang berlaku.

Sejumlah ketentuan yang diatur dalam surat edaran itu antara lain, dengan menyimpanan limbah infeksius dalam kemasan tertutup paling lama dua hari sejak dihasilkan. Mengangkut dan/atau memusnahkan pada pengolahan limbah B3, fasilitas insenerator dengan suhu pembakaran minimal 800 derajat celcius dan autoclave yang dilengkapi dengan pencacah (shredder).

Selanjutnya residu hasil pembakaran atau cacahan hasil autoclave dikemas dan dilekati simbol “beracun” dan label limbah B3 lalu disimpan di tempat penyimpanan sementara limbah B3 untuk selanjutnya diserahkan kepada pengelola limbah B3. "Sejumlah langkah ini wajib dilakukan pihak manajemen masing-masing rumah sakit," katanya.

Sementara itu lanjut dia, terkait limbah infeksius yang berasal dari ODP (orang dalam pemantauan) yang berasal dari rumah tangga, harus dilakukan dengan mengumpulkan semua jenis APD berupa masker, sarung tangan, dan baju pelindung diri dan mengemas tersendiri dengan menggunakan wadah tertutup. Setelah itu diangkut dan dimusnahkan pada pengolahan limbah B3.

"Petugas dinas yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup wajib mengamankan setiap sumber limbah untuk diangkut ke lokasi pengumpulan yang telah ditentukan," kata Umbu Tambu Ridi.

Dengan langkah ini, Walhi menjamin penyebaran virus Covid-19 di NTT melalui limbah B3 akan bisa dicegah. "Kita harus sama-sama menjaga dan mengontrolnya agar tidak menjadi musibah bagi warga di daerah ini," katanya.

Sementara itu dari data jumlah kasus positif Covid-19 di NTT hingga Minggu 17 Mei 2020 kemarin sudah di angka 68 dari sebelumnya 59 kasus. Dari jumlah 68 kasus positif Covid-19 tersebut, 61 pasien sedang dirawat, sembuh 6 orang, dan 1 Pasien meninggal dunia.

Ilustrasi

Sedangkan terkait sebaran kasus positif Covid-19 di NTT dengan peringkat kasus yakni Sikka 26 kasus, Kota Kupang 15 kasus, Manggarai Barat 12 kasus, Sumba Timur 7 kasus, Rote Ndao 2 kasus, Timor Tengah Selatan (TTS) 2 kasus dan Kabupaten Flores Timur 1 kasus.

Hingga berita ini dinaikkan, Pemprov NTT urung memberi tanggapan perihal kasus tersebut. Kepala Biro Humas Pemprov NTT Jelamu Ardu Marius ketika dihubungi melalui pesan singkat urung dijawab, pun ketika Okezone mencoba menelepon yang bersangkutan, selalu ditolak.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini