Pembunuh Perempuan Tergantung di Jemuran Diminta Dapat Hukuman Kebiri

Adi Rianghepat, Okezone · Senin 18 Mei 2020 20:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 18 340 2216125 pembunuh-perempuan-tergantung-di-jemuran-diminta-dapat-hukuman-kebiri-XrXBeQgWC0.jpg Ilustrasi

JAKARTA - Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berjanji akan mengawal proses hukum kasus meninggalnya bocah perempuan yang ditemukan tergantung di sebuah jemuran dan diduga telah diperkosa. Pengawalan ini demi mendapatkan keadilan bagi korban dan keluarganya.

"Pengawalan proses hukum ini demi sebuah keadilan bagi si bocah yang sudah menjadi korban dan keluarganya. Keadilan harus mereka peroleh," kata Komisioner Komisi Perlindungan Anak (LPA) Kota Bima menanggapi kasus yang dialami bocah tersebut.

Menurut dia, keadilan yang diharapkan dalam penegakan hukum kasus ini adalah pelaku harus mendapatkan sanksi hukuman yang sepadan.

"Pelaku harus diberikan sanksi seberat-beratnya (seumur hidup) sebagai hukuman pokoknya serta ditambah dengan hukuman kebiri," katanya kepada Okezone melalui pesan singkatnya dari Kota Bima, Senin (18/5/2020).

Dia bahkan berharap aparat penegak hukum dapat memastikan keadilan dengan memberikan hukuman tambahan kebiri tetsebut bagi pelaku. Sehingga dengan hukuman yang seberat-beratnya akan memberikan edukasi hukum serta sebagai upaya pencegahan kekerasan terhadap anak.

Baca Juga: Seorang Perempuan Ditemukan Tewas Tergantung di Jemuran

Secara kelembagaan kata dia, LPA Kota Bima sangat berduka terkait peristiwa yang menimpa anak perempuan yang tergantung dalam keadaan tidak bernyawa. Fenomena ini menggambarkan bahwa anak pada kondisi ini berada pada keadaan yang sangat rentan dengan kekerasan. Tak hanya itu, hal yang paling memilukan lagi bahwa pelakunya adalah orang-orang terdekatnya.

Dengan kerentanan ini dibutuhkan sebuah sistem perlindungan anak secara terpadu. Pada titik ini nyata bahwa perlindungan terhadap anak bukan hanya kewajiban orang tuanya masing-masing, namun haruslah juga melibatkan peran negara, pemerintah dan juga masyarakat sosialnya.

"Artinya bahwa sudah saatnya pemerintah dan masyarakat memikul kewajiban dalam penyelenggaraan perlindungan anak, termasuk di dalamnya mencegah serta menindak pelaku kekerasan terhadap anak. Hal ini menjadi sangat penting karena maraknya kasus kekerasan terhadap anak, yang pelakunya bukan saja orang lain tetapi telah banyak juga dilakukan oleh orang terdekatnya," kata Juhriati menjelaskan.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi NTB, Joko Jumadi terpisah menjelaskan, kondisi seperti sekarang ini di tengah pandemi Covid-19 telah membuka ruang semakin rawan anak dalam kehidupan sosial di tengah masyarakat. Apalagi jika situasi tekanan ekonomi keluarga telah memicu kendornya pengawasan orang tua terhadap anak.

"Tekanan ekonomi yang meningkat juga seringkali disertai dengan pengawasan orang tua yang lebih kendor sehingga menambah kerawanan bagi anak," katanya.

Karenanya dia berharap orang tua dalam kondisi saat ini harus lebih memperhatikan anak. Situasi anak tidak bersekolah menyebabkan kebosanan pada diri anak sehingga peran orang tua harus lebih kreatif untuk membuat anak nyaman dan aman di rumah. Dari sisi masyarakat harusnya mulai digerakan "jaga tetangga" untuk meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

"Sementara pemerintah harus melakukan edukasi kepada orang tua tentang bagaimana pengasuhan anak di masa pandemi seperti yang sedang dialami saat ini," kata Joko Jumadi.

Seorang bocah perempuan ditemukan meninggal tergantung di jemuran depan sebuah kosan di Kota Bima pada Kamis 14 Mei 2020 lalu. Hasil otopsi ditemukan adanya unsur kekerasan yang menyebabkan korban meninggal. Bahkan diduga sebelum meninggal korban diperkosa. Kasus ini pun sedang ditangani aparat Polres Bima Kota.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini