nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sejumlah Anak di AS Mengidap Peradangan Langka Terkait Virus Corona

Rachmat Fahzry, Okezone · Sabtu 23 Mei 2020 10:52 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2020 05 23 18 2218439 sejumlah-anak-di-as-mengidap-peradangan-langka-terkait-virus-corona-sqyNxbqW46.jpg Josie Paskvan dari Covid-19 dari Detroit, AS mengidap sindrom langka terkait virus corona. (Foto/Daily Mail)

NEW YORK - Sejumlah anak Amerika Serikat mengidap penyakit peradangan langka yang terkait dengan virus corona.

Mengutip NBC, Sabtu (23/5/2020) penyakit ini telah menginfeksi 147 anak dan merenggut 3 nyawa di kota New York.

Tidak ada yang tahu pasti apakah sindrom baru ini, yang sekarang disebut sindrom inflamasi multisistem pediatrik atau PMIS, terkait dengan virus corona, tetapi banyak dokter berpikir demikian.

“Saya pikir ini terkait dengan Covid,” kata Dr. Eva Cheung, MD, seorang ahli jantung pediatrik dan spesialis perawatan kritis di NewYork-Presbyterian Morgan Stanley Children's Hospital, yang telah merawat lebih dari 35 pasien dengan sindrom tersebut, menyitir NY Times.

Gejala-gejala sindrom ini termasuk demam persisten, lekas marah atau lesu, sakit perut, diare, muntah, ruam, konjungtivitis, pembesaran kelenjar getah bening di satu sisi leher, bibir pecah-pecah merah atau lidah merah dan tangan dan kaki bengkak.

Sindrom ini telah dilaporkan di hampir setengah negara bagian AS, termasuk New Jersey dan Connecticut.

Deteksi dini dapat mencegah penyakit serius atau kematian, kata walikota New York Bill de Blasio.

Dia mendesak orang tua untuk memanggil dokter anak mereka segera jika anak-anak mereka menunjukkan gejala termasuk demam persisten, ruam, sakit perut, muntah dan diare.

Gubernur New York Andrew Cuomo mengatakan kepada semua rumah sakit untuk memprioritaskan pengujian COVID-19 kepada anak-anak.

"Saya percaya kami menemukannya dan kami telah memberikan bangsa dan dunia kepala," kata Cuomo.

Di Kota New York City, sindrom itu ditemukan pada banyak anak muda. Sekitar 35 persen kasus terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun, sekitar 25 persen antara usia 5 dan 9, 24 persen antara usia 10 dan 14 dan 16 persen antara usia 15 dan 19. 

(fzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini