Risma Ngamuk Mobil Lab Digeser, DPRD Jatim Anggap Wajar

Syaiful Islam, Okezone · Sabtu 30 Mei 2020 12:08 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 05 30 519 2221971 risma-ngamuk-mobil-lab-digeser-dprd-jatim-anggap-wajar-9kF6pYhYoQ.jpg Walikota Surabaya Tri Rismaharani marah besar saat mengetahui mobil lab di geser ke daerah lain (foto: Hari Tambayong/iNews)

SURABAYA - Insiden pemindahan mobil laboratorium atau PCR ke wilayah lain oleh Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, menyulut amarah sang Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Padahal, masyarakat sudah menunggu lama untuk melakukan tes swab.

Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Deni Wicaksono menanggapan kemarahan Riswa atas insiden tersebut adalah wajar. Dia menilai, tipikal kepemimpinan Risma adalah berkorban untuk masyarakat yang dipimpinnya. Jadi apapun yang bersentuhan dengan rakyat yang dirugikan pasti Risma akan turun langsung.

”Saya kira sikap Bu Risma wajar. Masyarakat sudah tahu rekam jejak Bu Risma dalam membangun Surabaya. Tipikal kepemimpinan Bu Risma adalah berkorban untuk masyarakat. Jadi apakah salah jika Bu Risma membela rakyatnya, yang sudah menunggu tes tapi batal karena mobil dialihkan ke daerah lain?," ucap Deni Wicaksono, Sabtu (30/5/2020).

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur ini menyatakan, kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan menyatu dengan rakyat, kepemimpinan yang merasakan susahnya rakyat. Surabaya semestinya diletakkan dalam aspek prioritas dan strategis oleh Pemprov Jatim.

"Pemimpin di Pemprov Jatim harus singkirkan ego. Ketika rakyat Surabaya disuruh menunggu berjam-jam kemudian tes batal, di saat itulah pemimpin harus tampil melawan ketidakadilan,” papar Deni.

Justru ketika Risma tidak membela rakyatnya maka dia menjadi pemimpin yang salah. Pihaknya tidak mengenal malu dalam membela kepentingan rakyat kecil.

”Teman Golkar bilang, apa Bu Risma tidak malu dilihat masyarakat ketika marah? Saya bilang, bagi PDI Perjuangan, kita tidak mengenal malu untuk membela rakyat. Kita malu kalau lebih membela kepentingan politik dukung-mendukung daripada membela rakyat,” ucapnya.

Ia menambahkan, jika Gubernur dan Wagub Jatim fokus dan cermat dalam penanganan Covid-19 di Jatim, maka penentuan skala prioritas menjadi hal mutlak. Kalau ingin melandaikan kurva, maka kendalikan tingkat episentrum tertinggi.

Salah satunya dengan perluasan dan penambahan tes berbasis PCR di tempat episentrum tertinggi untuk segera dilakukan langkah mitigasi. Tapi faktanya Gubernur dan Wagub dinilai tidak melakukan aksi strategis.

"Mobil tes PCR hanya salah satu contoh. Contoh lain, tidak ada antisipasi sehingga rumah sakit overload, dan baru-baru ini bingung RS darurat. Lalu apa gunanya Gubernur dan Wagub bikin banyak seremoni, jika tak diiringi aksi strategis?," tandas Deni.

(amr)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini