Aplikasi Kitab Suci Aceh, Plt Gubernur Nova Iriansyah Surati Google

Windy Phagta, Okezone · Minggu 31 Mei 2020 17:10 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 31 340 2222471 aplikasi-kitab-suci-aceh-plt-gubernur-nova-irianasyah-surati-google-1aFDKG872z.jpg Ilustrasi. Foto: News.Sky

ACEH - Pelaksana Tugas Gubernur (Plt) Aceh Nova Iriansyah mengirimkan surat protes kepada perusahaan Google Indonesia terkait keberadaan aplikasi “Kitab Suci Aceh” di Google Play Store yang dinilai sangat provokatif dan telah meresahkan masyarakat Aceh.

Melalui surat bertanggal 30 Mei 2020, Nova Iriansyah menyampaikan keberatan dan protes keras kepada Managing Director PT Google, Pacific Century Place Tower Level 45 SCBD Lot 10 di Jl. Jend. Sudirman No.52-53, RT.5/RW.3, Senayan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12190.

“Sehubungan dengan munculnya aplikasi Kitab Suci Aceh di Google Play Store yang dipelopori oleh Organisasi Kitab Suci Nusantara, kami berpendapat bahwa Google telah keliru dalam menerapkan prinsip General Code of Conduct-nya yaitu “Don’t Be Evil” dan aturan-aturan yang tertuang dalam Developer Distribution Agreement-nya yang sangat menjunjung tinggi Local Law (hukum local). Karena itu, kami atas nama Pemerintah dan masyarakat Aceh menyatakan keberatan dan protes keras terhadap aplikasi tersebut,” ujar Nova dalam suratnya.

Adapun poin-poin keberatan yang disampaikan Nova yaitu penamaan aplikasi yang tidak lazim secara bahasa karena nama “Kitab Suci Aceh” menunjukkan bahwa kitab suci tersebut hanya milik masyarakat Aceh, padahal lazimnya kitab suci adalah milik umat beragama tanpa batas teritorial, sehingga nama aplikasi seolah-olah menggambarkan ayoritas masyarakat Aceh adalah penganut kitab suci yang ada dalam aplikasi tersebut. “Padahal kitab suci mayoritas masyarakat Aceh adalah Alquran,” kata Nova.

Selanjutnya, peluncuran aplikasi tersebut dinilai sangat provokatif karena semua penutur Bahasa Aceh di Aceh beragama Islam. Oleh karena itu aplikasi Kitab Suci berbahasa Aceh selain Alquran pada Google Play Store dapat dipahami sebagai upaya mendiskreditkan Aceh, pendangkalan aqidah dan penyebaran agama selain Islam kepada masyarakat Aceh.

Hal tersebut, kata Nova, bertentangan dengan Pasal 28E Ayat (1) dan (2) UUD 1945, Pasal 45A Ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 21 Qanun Aceh Nomor 4 Tahun 2016 tentang Pedoman Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian Tempat Ibadah, serta Pasal 3 dan 6 Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pembinaan dan Perlindungan Aqidah.

Selain itu, aplikasi tersebut telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Aceh. “Munculnya aplikasi ini telah menuai berbagai bentuk protes di kalangan masyarakat dan media sosial, baik secara pribadi maupun kelembagaan yang dapat mengancam kerukunan umat beragama (a threat to religious harmony) di Aceh dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” bunyi surat Nova.

Berkenaan dengan hal di atas, Nova Iriansyah atas nama pemerintah dan masyarakat Aceh meminta kepada pihak Google untuk segera menutup aplikasi tersebut secara permanen.

Surat tersebut juga ditembusi kepada Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia; Menteri Agama Republik Indonesia di Jakarta; Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia; Wali Nanggroe Aceh; Ketua DPR Aceh; Pangdam Iskandar Muda; Kapolda Aceh; Kajati Aceh dan Ketua MPU Aceh.

Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Alidar, meminta masyarakat Aceh agar tidak menginstal aplikasi “Kitab Suci Aceh”. ” Aplikasi itu sepertinya memang ditargetkan untuk orang Aceh lantaran menggunakan bahasa Aceh, tetapi tentu saja kita tidak perlu membukanya, apalagi menginstalnya di android,” ujar Alidar.

Sementara itu, Kantor Wilayah Kementerian Agama Aceh ikut angkat suara mengenai kemunculan aplikasi Kitab Suci Aceh di Google Play Store. Aplikasi tersebut berisi terjemahan kitab Injil, Taurat, dan Zabur dalam bahasa Aceh.

Kasubbag Kerukunan Umat Beragama dan Ortala Kanwil Kemenag Aceh, Muhammad Nasril, menyatakan aplikasi tersebut telah mengusik kerukunan masyarakat di Bumi Serambi Makkah.

“Aplikasi Kitab Suci Aceh itu telah mengusik kerukunan di Aceh, dan meresahkan” ujar Nasril saat dikonfirmasi, Minggu (31/5/2020).

Kasubbag Kerukunan Umat Beragama dan Ortala Kanwil Kemenag Aceh, Muhammad Nasril, menyatakan aplikasi tersebut telah mengusik kerukunan masyarakat di Bumi Serambi Makkah. “Aplikasi Kitab Suci Aceh itu telah mengusik kerukunan di Aceh,” ujar Nasril Minggu (31/52020).

Nasril mengatakan pencatutan nama Aceh dalam sebuah aplikasi yang memuat terjemahan kitab suci agama lain sangat tidak tepat, dan hal tersebut merupakan unsur provokasi.

“Itu isinya tidak sesuai dengan nama dan tidak cocok dengan kearifan lokal masyarakat Aceh kalau nama aplikasi itu ditulis kitab suci Aceh,” tambahnya Nasril.

Namun saat ini aplikasi tersebut telah hilang dari Play Store, sebelumnya dalam kolom komentar aplikasi tersebut, banyak netizen yang melaporkan aplikasi tersebut untuk dihapus. Selain dalam bahasa Aceh aplikasi kitab suci tersebut juga terdapat dalam beberapa bahasa daerah lainnya di Indonesia.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini