Sempat Dijemput Polisi, Netizen Pengunggah Guyonan Gus Dur Tak Diproses Hukum

Agus Suprianto, iNews · Jum'at 19 Juni 2020 08:28 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 19 340 2232678 sempat-dijemput-polisi-netizen-pengunggah-guyonan-gus-dur-tak-diproses-hukum-Vi7uO6l5ro.jpg Kapolda Maluku Utara Irjen Rikhwanto (Foto: iNews)

MALUKU UTARA – Kepolisian menjemput Ismail Ahmad lantaran menulis di akun Facebook-nya yang bernama Mael Sulla soal guyonan populer Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dalam postingan tersebut, tak lupa ia juga menuliskan nama Gus Dur di belakang kutipannya.

Rupanya, unggahan tersebut dibaca dan menyebabkan Kepolisian Resor Kepulauan Sula (Kepsul) tersinggung, dan berencana mempidanakan Ismail. Bahkan, Ismail bakal dikenakan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Adapun unggahan yang dimaksud yakni, “hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia, patung polisi, polisi tidur dan Jenderal Hoegeng,” Gus Dur. Saat ini, unggahan Ismail telah dihapus dan yang bersangkutan bersedia menyampaikan permohonan minta maaf kepada institusi Polri.

“Mohon maaf yang sebesar-besarnya di Facebook yang menyinggung instansi dan masyarakat, saya sangat menyesal dan bersalah dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut, apabila saya melanggar saya siap tindak lanjuti sesuai hukum yang berlaku,” ujar Ismali saat membacakan permohonan maaf.

“Saya mengimbau masyarakat sekalian terutama pengguna media social agar lebih bijak menggunakan media social demi tercipatnya situasi Kamtibmas kondusif, serta patuhi protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19,” imbuhnya.

 

Mendengar informasi tersebut, Kapolda Maluku Utara Irjen Rikhwanto kemudian menindaklanjuti dengan memberikan teguran kepada Kapolres dan jajarannya. Serta memerintahkan Ditkrimsus untuk memberikan petunjuk dan arahan kepada jajarannya, bagaimana menjabarkan Undang-Undang ITE secara tepat. Perbuatan yang dilakukan Ismail bukan sebuah masalah yang perlu diatensi kepolisian.

“Setelah saya dalami dengan kapolres dengan anggota diperiksa, objek yang dimasalahkan saya simpulkan kurang tepat, yang dimaksud joke Gus Dur ada polisi baik itu, ada polisi patung, polisi tidur, kemudian Pak Hoegeng, itu sifatnya memecut, dan itu sudah menjadi milik umum dan sudah tidak punya nilai-nila mencoreng institusi. Itu biasa-biasa saja,” tuturnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini