TANGERANG - Baru-baru ini tercatat sekira 13 perusahaan di kabupaten Tangerang terkena dampak pandemi Covid-19 sehingga terpaksa memutus hubungan kerja (PHK) dengan karyawannya. Padahal, sebagian besar mata pencaharian warga di Tangerang adalah sebagai karyawan.
Salah satu buruh yang terkena dampak PHK adalah Sumiyati (30). Sebelumnya dia bekerja di pabrik sepatu di bilangan Cikupa, kabupaten Tangerang.
Namun sebulan yang lalu dirinya mendapatkan PHK sehingga terpaksa meninggalkan pekerjaannya. Sebelum dia, kawan-kawannya yang lain sudah lebih dulu diberhentikan.
"Baru sebulan ini saya pengangguran. Pabrik belum bangkrut, tapi teman saya sudah gantian diberhentikan," ujar Sumiyati kepada Okezone pada Rabu (08/07/2020).
Nasib Sumiyati masih tergolong beruntung, sebab dia mendapatkan pesangon yang cukup besar dan bisa mencukupi kebutuhannya sebulan terakhir.
Baca Juga: Curhat Penumpang Terbang di Tengah Pandemi Covid-19, Biaya Rapid Test Dinilai Mahal
Sumiyati mengaku bahwa banyak buruh lain yang tidak mendapatkan pesangon yang cukup sebab perusahaannya benar-benar tidak karena terdampak pandemi Covid-19.
Lebih lanjut usai di PHK, Sumiyati memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan berencana membuka usaha di sana demi bisa bertahan hidup.
"Saya dapat pesangon lumayan besar, tapi ada beberapa karyawan pabrik lain yang pesangonnya sedikit. Minggu depan saya mau balik ke kampung, karena di sini kayaknya keadaan di sini susah juga mau mulai usaha," lanjut Sumiyati.
Sementara Suhendi biasanya bekerja sebagai buruh pabrik tekstil di Tangerang, kinia sudah jadi pengangkuran karena terkena PHK dua bulan lalu.
Baca Juga: Bangkit Setelah Di-PHK, Simak 5 Caranya Step by Step
Pabrik tempatnya bekerja dulu tidak sanggup lagi menggaji karyawan dan akhirnya memutus hubungan kerja kepada para karyawan.
Selama dua bulan terakhir, Suhendi bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Dia juga membuka jasa perbaikan celana demi mengumpulkan rupiah untuk bertahan hidup.
"Kurang lebih dua bulan jadi pengangguran. Kerjanya ya sekarang apa saja yang bisa dikerjain. Kebetulan punya mesin jahit, jadi terima vermak Levis sekarang. Lumayan buat jajan anak-anak," jelas Suhendi.
Penghasilan keluarga Suhendi kini lebih bergantung dari pendapatan istrinya yang berjualan makanan. Namun untung yang didapat juga tidak seperti sebelum adanya pandemi. Masyarakat saat ini lebih senang memasak sendiri untuk menghemat pengeluaran.