Warga Ramai-Ramai Berburu Harta Karun, Ini Peringatan Pemerintah

Taufik Budi, Okezone · Kamis 09 Juli 2020 12:20 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 09 512 2243592 warga-ramai-ramai-berburu-harta-karun-ini-peringatan-pemerintah-6wE6sfEpzv.jpg Pemburu harta karun di Blora. Foto: Taufik Budi-Okezone

BLORA - Kabupaten Blora saat ini menjadi sasaran para pencari harta karun melalui penggalian liar di berbagai situs. Kebanyakan pelaku berasal dari luar Blora dan cenderung ditiru oleh masyarakat yang tidak tahu bahwa kegiatan itu melanggar hukum.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Pemerintah Kabupaten Blora M Solichan Mochtar, mengungkapkan bahwa penggalian liar yang telah dilakukan oleh pelaku bertujuan mengambil benda cagar budaya (bekal kubur) tanpa izin. Para pelaku patut diduga melanggar UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

“Kegiatan pencarian benda cagar budaya hanya sah apabila dilakukan dengan izin penelitian yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang,” terang Solichan, Rabu (8/7/2020).

Para pencari harta karun ini beroperasi dengan menggali situs-situs yang tersebar di 16 kecamatan di Blora. Terbaru, sebanyak 18 orang diamankan polisi karena diduga melakukan kegiatan penggalian liar di hutan turut tanah dukuh Nglawungan Desa Tunjungan, Kecamatan Tunjungan, Blora.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, para pelaku mengaku mencari benda-benda kuno cagar budaya karena alasan ekonomi. Benda-benda yang ditemukan kemudian dijual guna mendapatkan uang untuk kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: 18 Pemburu Harta Karun Diamankan Polisi 

Para pelaku disinyalir warga Desa Ngawenombo Kecamatan Kunduran, Blora. Kepala Desa Ngawenombo juga dihadirkan dalam mediasi untuk ikut menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan. Mereka diberikan pembinaan dan penjelasan tentang peraturan dalam pelestarian cagar budaya.

“Mereka diminta menandatangani pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatan melanggar hukum dan diperbolehkan pulang,” katanya.

Dalam melakukan aksinya, para pelaku juga melengkapi diri dengan berbagai peralatan, contohnya metal detektor. Untuk memberikan efek jera, maka 12 alat metal detektor sementara ditahan di Mapolsek Tunjungan.

“Sejatinya di kawasan itu memang belum terdata tetap. Jadi sebagai tindak lanjut kami menugaskan Bidang Kebudayaan untuk melakukan peninjauan dan mendatangi lokasi tersebut, hingga akhirnya aktivitas itu diberhentikan oleh aparat keamanan,” imbuh Kepala Dinporabudpar Blora, Slamet Pamuji.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini