Langgar Wilayah Udara, Pesawat Narkoba Ditembak Jatuh Militer Venezuela

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 10 Juli 2020 11:43 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 10 18 2244186 langgar-wilayah-udara-pesawat-narkoba-ditembak-jatuh-militer-venezuela-iIhDUv6kDS.jpg Ilustrasi.

CARACAS – Pemerintah Venezuela mengklaim telah "menetralisir" sebuah pesawat yang terdaftar di Amerika Serikat (AS) karena melanggar wilayah udaranya. Caracas mengatakan insiden itu adalah bagian dari pertempurannya melawan perdagangan narkoba.

Dalam sebuah cuitan di Twitter pada Rabu (8/7/2020) Cabang Operasi Komando Strategis Angkatan Bersenjata Nasional Bolivarian mengatakan bahwa "menetralkan" pesawat tersebut "dengan jet militer sesuai dengan protokol" setelah terlihat di wilayah udara Venezuela pada 7 Juli tengah malam.

Dibagikan juga foto-foto sebuah pesawat yang jatuh dilalap api, dengan seorang prajurit berdiri di sebelah puing-puingnya. Foto-foto itu menunjukkan nomor ekor pesawat sebagai N339AV.

Menurut situs web Administrasi Penerbangan Federal AS, pesawat itu adalah Raytheon Hawker 800 milik KMW FLIGHT LLC, di Delaware. Menurut data Flighradar, penerbangan terakhir yang terdaftar adalah dari Toluca, Meksiko ke Pulau Cozumel, Meksiko di Karibia pada Selasa (7/7/2020).

Menteri Pertahanan Vladimir Padrino Lopez menyampaikan ucapan selamatnya kepada Penerbangan Militer Bolivarian untuk "kemenangan dalam pertempuran melawan perdagangan narkoba" dalam sebuah cuitan di Twitter, demikian diwartakan RT.

Sejak 2013, Venezuela telah memiliki kebijakan tembak jatuh untuk pesawat yang diduga membawa narkoba di wilayah udaranya, dan bukan tidak biasa bagi militernya untuk menembak jatuh pesawat untuk perdagangan narkoba.

Tidak ada informasi yang dirilis tentang di mana pesawat itu diduga ditembak jatuh, atau tentang nasib para pilotnya.

Laporan yang tidak diverifikasi secara online juga menyatakan bahwa pesawat itu mengangkut kokain, dan dipaksa untuk mendarat dan kemudian dibakar oleh kru untuk menghancurkan kargo. Beberapa pengguna Twitter menunjuk ke jejak ban di tanah yang mendukung teori itu.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini