Turki Ubah Museum Ikonik Hagia Sophia Menjadi Masjid

Rahman Asmardika, Okezone · Sabtu 11 Juli 2020 08:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 11 18 2244714 turki-ubah-museum-ikonik-hagia-sophia-menjadi-masjid-vpxtY2IoqN.jpg Foto: Reuters.

ISTANBUL - Museum Hagia Sophia yang terkenal di Istanbul, Turki, yang awalnya didirikan sebagai katedral, kini diubah kembali menjadi masjid. Perubahan fungsi bangunan ikonik itu diumumkan Presiden Recep Tayyip Erdogan setelah pengadilan membatalkan status museum Hagia Sophia.

Dibangun 1.500 tahun yang lalu sebagai katedral Kristen Ortodoks, Hagia Sophia dikonversi menjadi masjid setelah penaklukan Ottoman pada 1453. Pada 1934 Hagia Sophia diubah menjadi museum dan sekarang menjadi situs Warisan Dunia Unesco.

BACA JUGA: Diubah Jadi Masjid, Begini Sejarah Hagia Sophia

Kelompok Islamis di Turki telah lama menyerukan agar Hagia Sophia kembali dikonversi menjadi masjid tetapi anggota oposisi sekuler menentang langkah itu. Usulan tersebut juga menuai kritik dari para pemimpin agama dan politik di seluruh dunia.

Mempertahankan keputusan itu, Presiden Erdogan menekankan bahwa Turki telah menggunakan hak kedaulatannya untuk mengubah Hagia Sophia kembali menjadi masjid.

Dalam konferensi pers, dia mengatakan bahwa sholat pertama di dalam gedung Hagia Sophia akan diadakan pada 24 Juli.

"Seperti semua masjid kami, pintu Hagia Sophia akan terbuka lebar untuk penduduk lokal dan asing, Muslim dan non-Muslim," tambahnya sebagaimana dilansir BBC.

Unesco yang menyatakan “sangat menyesali” keputusan tersebut dan meminta otorita Turki untuk menggelar dialog dengan segera. Badan kebudayaan PBB itu mendesak Turki untuk tidak mengubah status Hagia Sophia tanpa berdiskusi terlebih dahulu.

BACA JUGA: Jadi Masjid Atau Museum? Fungsi Hagia Sophia di Turki Diputuskan dalam Dua Minggu

Sementara itu Kepala Gereja Ortodoks Timur mengecam langkah itu, seperti juga Yunani, yang merupakan rumah bagi jutaan pengikut Ortodoks.

Menteri Kebudayaan Yunani Lina Mendoni mengatakan langkah itu adalah "provokasi terbuka untuk dunia beradab".

"Nasionalisme yang diperlihatkan oleh Presiden Erdogan... membawa negaranya mundur enam abad," kata Lina dalam sebuah pernyataan.

Putusan pengadilan "benar-benar menegaskan bahwa tidak ada keadilan independen" di Turki, ia menambahkan.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini