Kawanan Kera Ekor Panjang Serbu Jalur Alas Roban

Suryono Sukarno, iNews · Selasa 14 Juli 2020 16:16 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 14 512 2246252 kawanan-kera-ekor-panjang-serbu-jalur-alas-roban-hcZdtpmOz7.jpg Kawanan kera ekor panjang turun ke jalan di Alas Roban/Foto: Suryono Sukarno-iNews

BATANG - Kawanan kera ekor panjang turun ke jalur Pantura Tengah Alas Roban, Batang. Kera yang berkeliaran, tepatnya di Jalan Poncowati ini diduga karena kehabisan bahan makanan.

Fenomena ini menjadi hiburan para sopir yang tengah melintas di jalan Daendels tersebut. Ada beberapa pengendara yang melempar makanan ke arah kera tersebut.

Para sopir merasa terhibur dan berhenti sejenak untuk memberi makanan kepada kera tersebut. Saat mekanan dilempar, ratusan kera yang biasanya bergelantungan di pohon jati langsung ikut berkerumun.

Hutan jati Alas Roban Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah dikenal angker lantaran menyimpan sejuta cerita mistis. Di balik rimbunya pepohonan yang termasuk kawasan hutan lindung jalur Pantura Tengah tersebut ternyata masih banyak dihuni hewan liar.

Kera ke jalan

Sebenarnya, keberadaan kera tersebut sudah lama dan tidak mengganggu para pengguna jalan. Saat kendaraan melintas, kawanan kera langsung lari ke pinggi jalan.

Kera kelaparan tersebut sengaja pada berdiri di pinggir jalan dan sesekali duduk di badan jalan. Para pengguna jalan harus melambatkan laju kendaraanya.

Selain itu, ada juga jenis lutung, hewan berkaki empat serta hewan liar lainnya. Sempat menghilang akibat pemburuan liar, kini hewan liat tersebut mulai muncul kembali.

Sejak dibukanya jalur Lingkar Utara dan Selatan serta tol, kondisi jalan tengah dengan medan berkelok tersebut sepi. Volume kendaraan yang melintas berkurang drastis.

Bupati Batang Wihaji akan meninjau langsung ke lokasi dalam waktu dekat ini. Tidak tertutup kemungkinan jalan nasional yang syarat dengan cerita sejarah tersebut akan dijadikan destinasi wisata baru.

Yang pertama baru dapat info ada beberapa kera yang turun ke jalan. Saya akan melihat langsung, apakah mengganggu atau tidak. Kemudian, ada potensi lain yang bisa dikembangkan," kata Wihaji, Selasa (14/7/2020).

(fmh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini