Karya lukisan itu, kata dia, pun dilakoninya secara otodidak. Dia mengaku mengandalkan ilmu dari tempat dia bekerja di Yogyakarta pada 2006 di bidang kerajinan tangan. Pada awal-awal menggeluti usaha ini, dia merasakan hal yang sama yakni sepi pembeli.
"Sama posisinya, seminggu pertama gak laku karena pertama dituliskan dijual lukisan selera harga pembeli. Tapi kurang kayanya, akhirnya diubah jadi dijual seiklasanya. Alhamdulillah, satu dua sampai sekarang," kata dia.
Saat ini, lanjut dia, anak-anaknya pun tak sampai kekurangan, dan tetap bisa melanjutkan sekolah, meski pun bukan di sekolah negeri. Mereka, kata dia, saat ini ada di wilayah Jawa Tengah untuk menempuh jalur pendidikan pondok pesantren sambil sekolah (sanawiah).
"Jadi setelah mereka lulus di sekolah negeri SD, saya pondokin sambil sekolah juga. Ibarat akar pohon, kita harus perkuat dulu keimanannya," kata dia.
Saat ini, anak yang di pondok sambil sekolah ada tiga orang yakni anak pertama, kedua dan ketiga. Dia mengaku membebaskan anaknya untuk menempuh jalur pendidikan manapun. Karena itu tadi, dirinya tidak ingin membatasi anak-anaknya dalam menempuh jalur pendidikan.
"Setelah dari pondokan (sanawiah) mau kuliah atau tidak, yang terpenting dia memiliki dasar pendidikan, agar iman mereka kuat," ujar dia.
Sementara, anak yang dibawa berdagang, diakui Badrus saat ini tidak sekolah setelah lulus dari TK lantaran, usia yang kurang dari 7 tahun. Belum lagi masalah kartu tanda penduduk yang saat ini dia miliki.
"Jadi memang yang kecil ini, kemarin habis lulus TK, sementara waktu gak sekolah dulu, karena nunggu 7 tahun. Terus gurunya bilang masuk TK lagi saja, cuma belum keurus, mungkin nanti," jelas dia.
Dia pun terus mengusahakan, akan tetap membawa anaknya ke jalur pendidikan, meski kondisi saat ini masih sulit akibat pademi virus corona. "Tetap mas, saya masukin, tapi nanti sambil nunggu rezeki, kita gak ada yang bakal tahu rezeki itu, datangnya biasa kapan saja," ujar dia.
(Angkasa Yudhistira)