Heboh Aliran "Agama Muslim", MUI: Mereka Mengaku Pengikut Nabi Ibrahim

Rus Akbar, Okezone · Minggu 26 Juli 2020 22:23 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 26 340 2252443 heboh-aliran-agama-muslim-mui-mereka-mengaku-pengikut-nabi-ibrahim-VO7yHzeg5m.jpg ilustrasi

SOLOK - Aliran kepercayaan yang sempat menghebohkan warga Nagari Sumani, Kecamatan X Koto Siongkarakak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat bernama Agama Muslim.

Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solok, Syahrul Wirda, agama tersebut tidak mengakui tuhannya Allah SWT, kemudian nabi yang dipercayai itu adalah Ibrahim bukan Nabi Muhammad SAW.

“Agama Muslim ini dalam ajaranya tidak mewajibkan salat tetapi mewajibkan mengingat rabbi atau gurunya. Bahkan tidak diwajibkan berpuasa dan naik haji karena yang naik haji itu cukup guru saja tapi dalam ajara itu harus mengendalikan hawa nafsu,” ucapnya Minggu (26/7/2020).

Syahrul menambahkan dalam persoalan haji hasil investigasi pihak MUI bagi pengikut yang ingin naik haji bisa diwakilkan kepada guru. “Ya semua ajaran Nabi Muhammad SAW, tidak dipercayai oleh pengikut itu. Tapi kami udah tanyakan aliran itu sudah berhenti sejak April 2020,” ucapnya.

Selain itu kata Syahrul diduga ajaran itu dibawa oleh warga Kota Padang ke Solok, dan penyiar aliran ini pernah berguru ke Surabaya pada tahun 1996.

Baca Juga: Ini Penjelasan MUI Soal Aliran 'Agama Muslim' di Kabupaten Solok

“Meski beredar di Solok tapi pusatnya di Padang itu, gurunya ada di Andalas, itu hasil kita wawancara dengan warga yang mengikuti aliran tersebut,” jelasnya.

Pihak MUI setempat juga sudah melakukan dialog dengan mereka yang mengikuti aliran tersebut dari hasil dialog tersebut guru dan pengikutnya tidak memahami Islam dan tauhid. Apalagi, rata-rata tidak berpendidikan.

“Rata-rata mereka tamatan SD dan banyak yang tidak berpendidikan. Keinginan untuk memahami dan mempelajari Islam maupun tauhid juga tidak ada. Jadi susah untuk berdialog dengan mereka,” katanya.

Sementara jumlah pengikut agama di daerah Kabupaten Solok itu ada puluhan orang tersebar di Nagari Sumani, Koto Sani dan Rumbak. Namun, ada juga yang melaporkan ajaran serupa ditemukan di Kabupaten Dharmasraya.

“Aliran ini sudah dilarang berkegiatan oleh Wali Nagari, Polsek, dan KUA setempat dan sudah melaksanakan himbauan tersebut,” pungkasnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini