Menelisik Isi Kepala Bandar Judi Togel

Taufik Budi, Okezone · Selasa 28 Juli 2020 02:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 28 512 2253064 menelisik-isi-kepala-bandar-judi-togel-kczXB43joZ.jpg Gendut tak berkutik saat ditangkap polisi (Foto: Ist)

KEBUMEN – FR alias Gendut (30) warga Desa Jatinegara Kecamatan Sempor Kabupaten Kebumen Jawa Tengah, tak berkutik ketika digerek polisi. Pria berperawakan bongsor ini diduga menjual kupon toto gelap (togel) di lapaknya.

Kapolres Kebumen AKBP Rudy Cahya Kurniawan mengungkapkan dari penangkapan itu pihaknya berhasil mengamankan sejumlah barang bukti. Di antaranya uang tunai Rp507 ribu, dua lembar kertas hasil pengeluaran nomor, tujuh lembar kertas bukti pembelian, dua bonggol kertas nota yang sudah terpakai, satu bonggol kertas yang belum terpakai dan berbagai alat tulis untuk merekap.

"Kita tangkap tersangka berdasarkan laporan warga. Masyarakat merasa terganggu dengan aktivitas tersangka menjajakan kupon togel," jelas Rudy, Senin (27/7/2020).

Penuturan tersangka, dalam sehari ia bisa meraup keuntungan Rp400 ribu. Namun, keuntungan itu kini hanya menjadi angan karena harus berhadapan dengan hukum. Tersangka dijerat Pasal 303 KUH Pidana tentang perjudian dengan ancaman kurungan penjara paling lama 10 tahun.

Sementara itu, psikolog asal Universitas Katholik (Unika) Soegijapranata Semarang, Indra Dwi Purnomo, menilai, berjudi menjadi pilihan sebagai warga untuk mencari penghasilan secara instan di masa pandemi Covid-19. Akibatnya, praktik perjudian tumbuh subur hingga di kampung-kampung. Apalagi, sekarang juga dimudahkan dengan perkembangan teknologi informasi.

Bukan tanpa risiko, kerap pula uang yang dipertaruhkan hangus karena nomor bututnya meleset. Belum lagi, aparat penegak hukum yang senantiasa berpatroli untuk memberantas penyakit-penyakit masyarakat.

“Dari sudut pandang neuropsikologis, penjudi merupakan orang yang memiliki problem di area prefrontal cortex. Sehingga membuat para penjudi memiliki kecenderungan perilaku berani mengambil risiko,” kata Indra.

“Cara berpikir mereka yang rasional sesungguhnya sudah mengerti bahwa berjudi tidak boleh, namun kemampuan berpikir rasional mereka tidak bisa mengendalikan impuls atau dorongannya,” ungkap psikolog muda itu.

Dia menambahkan, lesunya perekonomian membuat warga yang kehilangan pekerjaan akan mudah terpengaruh untuk mencari jalan-jalan instan. Apalagi, untuk mencari pekerjaan baru bukan perkara mudah. Padahal kebutuhan sehari-hari tak bisa ditunda.

“Apabila kita lihat dari sudut pandang sosial ekonomi, bagi masyarakat dengan status ekonomi rendah sering kali dianggap sebagai sarana untuk memberikan tambahan pendapatan, sehingga di masa pandemi seperti saat ini dengan semakin banyaknya pengurangan karyawan, semakin lesunya perdagangan, berdampak pada menurunnya perekonomian secara global,” ungkapnya.

“Sehingga masyarakat dengan perekonomian rendah dan pendidikan rendah memilih jalan pintas singkat untuk bisa menambah pendapatan pemenuhan kebutuhan hidup dengan cara berjudi. Yang harapan mereka dengan memenangkan judi bisa digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup mereka,” lugas dia.

Selain itu, faktor situasi lingkungan juga menjadi faktor yang dapat memicu terjadinya perjudian. Hal ini terjadi karena adanya dorongan atau tekanan dari usia sebayanya yang secara langsung ataupun tidak langsung mendorong agar ikut berpartisipasi.

Menurutnya masyarakat perlu menyadari bahwa kegemaran berjudi dapat mengakibatkan menjadi gangguan patologis, sehingga perlu bersama-sama untuk menghilangkan kegemaran tersebut. Ada beberapa tahapan seseorang menjadi judi patologis.

“Para penjudi sebelum menjadi gangguan, sering kali berawal dari tahap sosial gambler yang artinya mereka berjudi hanya sesekali saja dan dapat mengontrol dorongannya. Sering kali social gambler ikut berjudi hanya untuk mengakrabkan dengan rekannya dan tidak mempertaruhkan uang dalam jumlah besar,” tutur dia.

“Namun bisa saja meningkat menjadi penjudi bermasalah, cirinya perilakunya mereka berjudi hingga menyebabkan terganggunya hidup pribadi dan keluarganya, serta memilih judi sebagai sarana untuk mengalihkan dari masalah hidupnya,” ungkapnya.

Keberlanjutan perilaku berjudi yang tidak terkendali membuat seseorang menjadi tidak mampu lagi untuk mengontrol dorongannya berjudi. Pikirannya sudah terobsesi dengan perilaku judi dan sudah tidak lagi bisa mempertimbangkan dampak negatif yang terjadi. Penjudi yang sudah sampai pada taraf patologis walaupun tidak ada pengaruh dari substance tetap saja membuat mereka menjadi addictive.

“Kebahagiaan keluarga mari diwujudkan bersama, selain itu imbauan dari tokoh masyarakat dan tokoh agama kiranya dilakukan secara intesif dan berulang. Apabila telah menjadi judi patologis sebaiknya bekerjasama bersama profesional terkait untuk menangani,” tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini