Uniknya Tradisi Ngejot Idul Adha, Simbol Kerukunan Umat Beragama di Bali

I Gusti Bagus Alit Sidi, iNews · Sabtu 01 Agustus 2020 03:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 01 244 2255212 uniknya-tradisi-ngejot-idul-adha-simbol-kerukunan-umat-beragama-di-bali-l1AKwUv6F9.jpg Warga membagikan daging hewan kurban dalam tradisi Ngejot di Bali (Foto: iNews)

BALI – Meski sebagian besar masyarakat Bali beragama Hindu, bukan berarti masyarakat muslim di Pulau Dewata tak memiliki tradisi saat perayaan hari raya Idul Adha. Salah satu tradisi unik yang masih bisa dijumpai sampai sekarang adalah tradisi Ngejot.

Di Bali, Ngejot bisa berarti saling memberikan makanan atau hidangan oleh warga yang sedang melaksanakan perayaan ke rumah para kerabat maupun tetangga yang berbeda agama. Tradisi ini bahkan telah diwarisi turun temurun sejak zaman kerajaan sekitar 500 tahun silam berkat adanya saling pengertian dan menghormati antar umat beragama.

Salah satu daerah di Bali yang masih melestarikan tradisi ini adalah masyarakat muslim di Banjar Angantiga, Desa Petang, Badung, Bali. Pada perayaan Idul Adha tahun ini, umat Muslim Banjar Angantiga memotong sejumlah kambing dan sapi kurban.

Baca Juga: Hari Raya Idul Adha Masih Banyak Warga Manfaatkan Mudik 

Selain membagikan daging segar kepada fakir miskin, puluhan paket daging kurban dengan berat per paket sekitar 2 kilogram juga dibagikan kepada warga non muslim di sekitar Banjar Angantiga sebagai wujud toleransi antarumat beragama.

Setelah paket daging segar selesai dipersiapkan, sore harinya warga muslim melaksanakan tradisi Ngejot dengan mendatangi satu per satu rumah warga non muslim khususnya semeton Hindu untuk mengantarkan paket daging tersebut.

"Silaturahim yang penting kerukunan kita umat beragama," kata Agus Harodi.

Umat Hindu yang menerima pemberian Ngejot pada hari Idul Adha, biasanya membalas pada hari besar umat Hindu seperti saat perayaan hari raya Galungan maupun Kuningan. Meski berbeda keyakinan, tetapi umat muslim maupun non muslim saling berbagi makanan saat merayakan hari besar keagamaan masing-masing.

Tradisi unik ini sekaligus menjadi simbol kemesraan dan tali kasih persaudaraan antarumat beragama di Bali. Tradisi semacam ini diharapkan tetap berlangsung turun temurun oleh generasi berikutnya, sehingga keharomisan antar umat beragama senantiasa hadir di Tanah Air.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini