Musim Kemarau, Ribuan Warga Mojokerto Terancam Krisis Air Bersih

Agregasi Sindonews.com, · Selasa 04 Agustus 2020 21:19 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 04 519 2257015 musim-kemarau-ribuan-warga-mojokerto-terancam-krisis-air-bersih-GWtEHtcNaE.jpg Warga Dusun Telogo, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, mengambil air bersih dari tangki-tangki yang dikirimkan BPBD. (Sindonews/Tritus Julan)

MOJOKERTO –Tiga kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, terancam kekeringan memasuki musim kemarau. Sebanyak 7.386 warga yang tersebar di enam desa bakal dilanda krisis air bersih.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mojokerto mencatat, enam desa itu tersebar di tiga kecamatan, yaitu Desa Kunjorowesi, Manduromanggunggajah, dan Kutogirang di Kecamatan Ngoro.

Selanjutnya Desa Duyung di wilayah Kecamatan Trawas, serta Desa Simongagrok dan Desa Dawarblandong di Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto. Dari tiga kecamatan tersebut, tiga desa di Ngoro menjadi yang paling banyak mengalami krisis air bersih.

Kepala BPBD Mojokerto, Muhammad Zaini menyatakan, sejak awal Agustus 2020, krisis air bersih sudah melanda ribuan warga di Desa Kunjorowesi, Ngoro. Pihaknya pun sudah mulai mendistribusikan air bersih.

"Dusun Telogo, Desa Kunjorowesi ini sudah mengalami krisis air bersih selama sepekan sejak awal Agustus ini. Kami juga sudah menetapkan status tanggap darurat," kata Zaini, melansir Sindonews, Selasa (4/8/2020).

Menurutnya, penetapan status tanggap darurat dilakukan salah satunya agar masyarakat luar bisa membantu mendistribusikan air bersih kepada warga terdampak sehingga kebutuhan air bersih bagi ratusan warga Dusun Telogo bisa teratasi.

Selain di Desa Kunjorowesi, mengacu tahun-tahun sebelumnya, beberapa desa yang mengalami krisis air bersih di antaranya Manduromanggunggajah, Kutogirang, dan a Wotanmas Jedong, di Ngoro. Dari empat desa itu, terdapat sekitar 3.297 jiwa yang biasa terdampak kekeringan.

Di Kecamatan Dawarblandong, krisis air berdampak pada 750 jiwa di Dusun Sekeping, dan 700 jiwa di Dusun Dawar. Selebihnya, sebanyak 375 jiwa di Dusun Tempuran. Kemudian sebanyak 825 jiwa Dusun Ngagrok, 420 jiwa di Dusun Genceng, dan 450 jiwa di Dusun Mlati, Desa Simongagrok.

Sedangkan di Kecamatan Trawas, krisis air bersih selalu dirasakan warga Desa Duyung. Di desa ini, sebanyak 509 jiwa dengan jumlah 277 kepala keluarga (KK) selalu menggantungkan bantuan pemerintah untuk suplai air bersih setiap musim kemarau tiba. Kondisi ini, bahkan sudah terjadi sejak bertahun-tahun.

"Sudah sejak lama, karena warga di sana memang mengandalkan air tadah hujan. Sebab tidak ada sumber mata air yang bisa dijangkau warga sekitar," ucapnya.

Zaini menyatakan, kemarau kali ini sepertinya bakal berlangsung lebih lama dibandingkan 2019. Untuk itu, ia mengimbau warga yang masuk dalam peta kekeringan saat musim kemarau, harus bersiap diri sejak dini.

Baca Juga : BMKG: 64% Wilayah Sudah Masuk Musim Kemarau

"Sesuai prediksi BMKG pusat, saat ini memang sudah memasuki musim kemarau. Prediksinya memang lebih lama. Untuk itu kami sudah melakukan pemetaan agar krisis air bersih yang dialami warga bisa diatasi," tutur Zaini.

Baca Juga : Waspada, Sejumlah Daerah di Indonesia Berpotensi Kekeringan

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini