Kisah Pelajar di Bali Rela Jadi Buruh Cangkul, Upahnya untuk Beli Kuota Internet

Yunda Ariesta, iNews · Kamis 06 Agustus 2020 12:47 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 06 340 2257873 kisah-pelajar-di-bali-rela-jadi-buruh-cangkul-upahnya-untuk-beli-kuota-internet-oxGWQ5fe9o.jpg Sindiari, pelajar di Bali belajar sambil bekerja untuk bisa beli kuota internet (foto: iNews)

BALI - Seorang pelajar SMA di Karangasem, Bali harus bersusah payah menjadi kuli cangkul perkebunan demi memenuhi kebutuhan kuota internet untuk belajar online. Kondisi ekonomi yang membuat remaja ini harus berkeringat dahulu sebelum bisa belajar daring di tengah pandemi Covid-19 ini.

Sindiari, remaja kelas 11 AM Slua Saraswati Selat, Desa Amerthabuana, Karangasem, Bali, meski hidup dalam keterbatasan ekonomi, tak membuat tekadnya untuk tetap bisa belajar sirna.

Pasangan I Ketut Karwi dan I Kadek Sumiati ini merasa beruntung memiliki anak yang memiliki semangat tinggi untuk menuntut ilmu hingga jenjang SMA. Sementara sang adik tak sempat mengenyam pendidikan lantaran tak ada biaya.

Siswa di Bali

Kini, di masa pandemi ia harus bisa belajar mandiri. Sistem pembelajaran yang berbasis online, membuatnya tak bisa lagi hanya fokus belajar, sebab ia juga harus ikut berusaha memikirkan biaya kuota internet untuk dapat tetap mengikuti pembelajaran.

Karena itulah, di paruh waktu belajarnya ia meluangkan waktu kosong dan tenaganya untuk bekerja sebagai buruh cangkul dan bersih-bersih di sebuah ladang perkebunan, kawasan Desa Ancut, Karangasem.

Sebenarnya ia telah menjalankan pekerjaan ini profesi ini sejak kelas 3 SMP, namun hanya di waktu libur sekolah saja.

Tapi sejak memasuki masa pandemi covid-19 yang mengharuskannya belajar online dan dengan tuntutan biaya kuota internet, Sindi harus bekerja lebih giat dengan merelakan separuh waktu belajarnya untuk bekerja.

siswi di bali2

Ia mengaku kadang merasa sangat kewalahan mengikuti sistem pembelajaran online yang mengharuskannya mengerjakan tugas sekolah yang lebih banyak, sambil bekerja. Tapi ia tak pernah menyerah, sebab jika ia berhenti berjuang, apalagi pekerjaan orang tua yang hanya buruh serabutan dengan pengahasilan maksimal 1 juta per bulan tak mampu membuayai pendidikannya.

“Setengah hari, saya diupah 50 ribu rupiah. Ya saya bersyukur jika dikumpulkan uang tersebut cukup untuk membayar SPP dan biaya sekolah termasuk kuota internet,” kata Sindi.

Sementara, Kadek Sutami, orangtua Sindi berharap besar anak pertamanya Sindi dapat menuntaskan pendidikan setinggi-tingginya.

"Sebenarnya dari lubuk hatinya tak tega melihat anaknya harus bersusah payah bekerja untuk dapat tetap berskolah, namun tak ada pilihan lain. Apalagi pendapatan seuami saya pas-pasan,” tuturnya.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini