Karena itu, SYL menegaskan ubi kayu beserta olahan turunannya, seperti mie, dapat menjadi pendorong perekonomian dan sumber ketahanan pangan negara. Produk ini sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia dan juga pasar ekspor.
"Kita punya tepung, sagu dan tapioka itu, kemudian sekarang sudah masuk kepada mie. Dimana mie itu kan menjadi pilihan-pilihan makanan orang Indonesia. Dan kita berharap memang menjadi kekuatan Indonesia ke depan," terangnya.
Di tempat sama Gubernur Babel Erzaldi Rosman menyatakan sangat mendukung upaya Kementerian Pertanian (Kementan) yang memprioritaskan program ketahanan pangan lokal. Dengan demikian, diversifikasi pangan menjadi salah satu alternatif yang harus serius dikembangkan.
“Kami kembangkan ubikayu dan sagu untuk kepentingan industri. Di Babel ada 5 pabrik tapioka sejenis. dan kita selalau menghimbau kerjasama kemitraan dengan petani. Petani kami himbau bisa menyediakan bahan baku secara kontinu dan berkualitas agar industri dapat terus berjalan," tuturnya.
PT BAA salah satu industri yang bergerak di tepung tapioka dan sagu telah lama mengembangkan tepung tapioka bebahan baku singkong. Bahan baku singkong yang dibutuhkan 500 ton/hari. Hasilnya berupa tapioka dengan kapasitas 125 ton/hari. Untuk memenuhi industri tersebut diperlukan panen singkong/ ubi kayu 20-25 ha/hari atau setara dengan 9.000 ha/ tahun. Pasar tapioka selama ini dijual ke Palembang, Lampung, Surabaya dan Sidoarjo dan beberapa Kota Lainnya di Nusantara