Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Penjelasan Istana soal 3 Kali Ucapan Jokowi "Bajak Momentum Krisis"

Fahreza Rizky , Jurnalis-Sabtu, 15 Agustus 2020 |11:22 WIB
Penjelasan Istana soal 3 Kali Ucapan Jokowi
dok: DPR RI
A
A
A

JAKARTA - Pihak Istana Kepresidenan menjelaskan maksud pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ihwal 'membajak momentum krisis' akibat pandemi virus Corona (Covid-19).

Pernyataan itu memiliki arti agar segenap komponen bangsa bisa memanfaatkan situasi saat ini untuk melakukan lompatan besar. Dalam pidatonya di Gedung MPR/DPR kemarin, Jokowi tiga kali mengajak semua pihak membajak momentum krisis.

Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman mengatakan, membajak momentum krisis ditujukan untuk melakukan lompatan kemajuan, salah satunya dengan mereformasi segala sektor yang masih jauh dari kata baik.

(Baca juga: Presiden Jokowi: Kebijakan Harus Kedepankan Ramah Lingkungan dan Perlindungan HAM)

"Bajak momentum krisis untuk melakukan lompatan kemajuan: reformasi di segala sektor dan pembenahan diri secara fundamental, reformasi fundamental itulah strategi kita di masa krisis ini, meraih kemajuan di segala bidang, dan mencegah resesi di bidang perekonomian lalu mempercepat pertumbuhan ekonomi pada 2021 dengan perkiraan 4,5 - 5,5 persen," ujarnya melalui keterangan tertulisnya, Sabtu (15/8/2020).

Menurut Fadjroel, Jokowi ingin pola pikir dan etos kerja bangsa Indonesia berubah. Fleksibilitas, kecepatan, dan ketepatan sangat dibutuhkan dalam kondisi saat ini. Efisiensi, kolaborasi, dan penggunaan teknologi juga harus diprioritaskan untuk transformasi kemajuan bangsa.

"Setiap kebijakan pemerintah harus mengedepankan pendekatan demokratis (termasuk mensukseskan Pilkada 2020), ramah lingkungan, melindungi HAM, juga harus cepat, tepat dan ilmiah," jelas dia.

Jokowi, lanjut Fadjroel, ingin terciptanya ekosistem nasional yang produktif dan inovatif yang didukung oleh bidang/pilar hukum, politik, kebudayaan dan pendidikan yang mumpuni.

Jokowi juga menegaskan pemerintah tidak pernah main-main dengan upaya pemberantasan korupsi. Demokrasi harus tetap berjalan dengan baik, tanpa mengganggu kecepatan kerja dan kepastian hukum, serta budaya adiluhung bangsa Indonesia.

"Kepala Negara juga mengingatkan bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak bisa dipertukarkan dengan apapun juga. Tidak ada ruang bagi siapapun untuk menggoyahkannya," tambah Fadjroel.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement