Kisah Preman: Dulu Pemabuk dan Penjudi, Kini Mengajar Menari di Pedesaan

Avirista Midaada, Okezone · Senin 24 Agustus 2020 10:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 24 519 2266365 kisah-preman-dulu-pemabuk-dan-penjudi-kini-mengajar-anak-anak-di-pedesaan-XS8uTK85rE.jpg Preman mengajar menari. Foto: Avirista

MALANG - Jauh dari hingar bingar perkotaan Malang, ada puluhan preman yang mencoba memberikan manfaat ke anak-anak sekitar lingkungannya.

Salah satunya bernama Kusnadi Abit, ia menjadi bagian dari beberapa pemuda dengan masa lalu kelam. Latar belakang preman menjadikannya kerap ditakuti warga lainnya, namun kini stigma itu telah pudar.

Kusnadi Abit tak menampiknya, ia mengaku sempat menjadi sosok nakal di tempat tinggalnya di Dusun Boro, Desa Slamparejo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.

"Saya orang nggak bener memang, saya pemabuk, saya pemalak, saya tukang ngajarin anak-anak muda untuk mabuk, judi dan lain-lain," kata pria yang disapa Cak Kus.

Namun seiring berjalannya waktu, Cak Kus mulai berubah. Kehadiran sekelompok pemuda yang mengajar di daerahnya dan kegiatan literasi oleh komunitas Republik Gubuk menjadikan pria berusia 39 tahun tertarik bergabung.

Ya komunitas Republik Gubuk yang digagas Fachrul Alamsyah, ini menjadi komunitas literasi yang mewadahi semua kalangan, termasuk para preman. Dari sinilah akhirnya Cak Kus mulai melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungannya.

Ia pun mendirikan gubuk baca sendiri bernama Gubuk Baca Kampung Tretek, hingga akhirnya seiring berjalannya waktu beberapa gubuk baca di sekitar tempat tinggalnya berkembang. Kini setidaknya ada tiga gubuk baca yang berkembang dan menjadi satu kesatuan di Gubuk Baca Lereng Busu.

Baca Juga: Preman Mabuk, Makan Bakso Tak Bayar dan Pukul Pemilik Warung 

Saat ini Abiet mempunyai program gubuk baca di tempat tinggalnya. Di ruangan rumah biasa, dia dan rekan-rekannya menyediakan berbagai macam buku pelajaran dan cerita yang diperoleh dari sumbangan mahasiswa dan sebagainya.

"Kita milih nama gubuk karena nama itu sederhana dan memasyarakat sehingga yang mau ikut nggak malu. Kalau dinamai yang elit khawatir dikira anggotanya orang-orang dari kalangan tertentu," kata Cak Kus.

Ia pun berharap dosa di masa lalunya bisa termaafkan dengan kegiatan mengajar menari bagi anak-anak di pedesaan daerah Malang. 

"Kita kepingin anak-anak muda sekarang nggak kayak zaman saya dulu. Mereka harus beri manfaat untuk orang banyak terutama bermanfaat untuk generasi-generasi selanjutnya," jelas pria lulusan SMP ini.

Baca Juga: Rekam Jejak John Kei, Sempat Bertaubat Sebelum Kembali Berulah

Cak Kus kini hampir setiap hari memberikan dedikasinya ke anak-anak bersama sejumlah pemuda di dusun lainnya. Setiap hari pembelajaran mata pelajaran formal dan hari Minggu atau hari libur lainnya mengajar menari dan membuat ketrampilan.

Terpisah, Penggagas Republik Baca Fachrul Alamsyah mengatakan bila gubuk-gubuk baca yang ada di rintisnya enam tahun lalu. Langkah ini diambilnya supaya minat literasi anak-anak di sekitar kawasan Kecamatan Jabung bisa meningkat.

“Jadi kita bikin gubuk. Pokoknya ada bukunya, semacam taman baca atau perpustakaan. Tetapi akhirnya, sampai saat ini ya bukan taman baca, tapi lebih pada konsep pergerakan pemberdayaan masyarakat, mencetak teman-teman di kampung menjadi agen perubahan, agen pergerakan di kampungnya sendiri-sendiri,” terang pria yang akrab disapa Irul ini.

Kini telah ada 25 gubuk baca di Kecamatan Jabung dan beberapa wilayah di luar Jabung. Menariknya, dari puluhan gubuk ini ada program preman mengajar kepada para anak - anak di Kecamatan Jabung. Gubuk - gubuk tersebut berjejaring dan saling bersinergi satu sama lainnya.

“Preman mengajar ini karena dulu rata-rata teman-teman ini adalah preman kampung, dari penampilan gitu-gitu. Akhirnya kita bikin preman mengajar. Nah preman mengajar ini adalah bagian program dari Republik Gubuk. Ada sekitar 20-an preman,” papar alumni Unisma ini.

Contoh materi yang diajarkan preman yang sudah tobat di komunitas ini adalah materi menari dan membuat topeng.

“Kayak topeng sambang sekolah. Topeng sambang sekolah ini, topeng malangan, atau topeng jabung yang menjadi aset budaya kecamatan jabung, nah target kami topeng jabung ini baik ukir baik tarinya ini ke depan menjadi pelajaran muatan lokal di sekolah,” ucap Irul.

“Jadi teman-teman ini akhirnya beberapa menjadi guru di sekolahan, dan sekolah tidak melihat latar belakangnya, tetapi melihat skillnya,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini