Puncak Kemarau Diprediksi September, Warga Diimbau Waspada Kekeringan

Fathnur Rohman, Okezone · Selasa 01 September 2020 18:25 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 01 525 2271031 puncak-kemarau-diprediksi-september-warga-diimbau-waspada-kekeringan-wwCohmvHfw.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

CIREBON - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kertajati memprediksi, puncak musim kemarau di wilayah Kabupaten Cirebon dan sekitarnya akan terjadi pada bulan September tahun 2020 ini.

Dijelaskan Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Kertajati, Ahmad Faa Izyn, musim kemarau di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat sudah terjadi sejak bulan Juni lalu. Menurutnya, bulan Agustus hingga September ini diprakirakan menjadi puncak musim kemarau di wilayah Cirebon.

"Sudah dari bulan Juni kemarin. Puncak kemarau diprakirakan Agustus-September," kata Faa Izyn saat dihubungi Okezone, Selasa (1/9/2020) sore.

Ia melanjutkan, pada puncak musim kemarau ini, ada beberapa wilayah di Cirebon yang berpotensi mengalami kekeringan. Dia menyebut, wilayah itu adalah Susukan dan Sumber.

Selain itu, kata dia, wilayah Raja Galuh Lor di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat juga berpotensi mengalami kekeringan pada puncak musim kemarau kali ini.

"Dipuncak kemarau ada potensi kekeringan di wilayah Cirebon. Berdasarkan update 31 Agustus 2020 di Jawa Barat, daerah tidak hujan berturut-turut 31–60 hari terjadi di Kabupaten Karawang (Teluk Jambe Timur), Kabupaten Subang (Ciasem,Tambak Dahan), Kabupaten Cirebon (Susukan, Sumber), dan Kabupaten Majalengka (Raja Galuh Lor)," ujarnya.

Dia menambahkan, hari ini suhu tertinggi di Kabupaten Cirebon menyentuh angka 35,6 derajat celcius. Pihaknya memprediksi, puncak suhu tertinggi bisa mencapai 38 derajat celcius pada awal atau akhir bulan Oktober.

"Sampe hari ini tertinggi tercatat 35,6 C. Diprediksi puncak suhu tertinggi bisa mencapai 38 C pada akhir - awal Oktober," paparnya.

Ia mengimbau agar masyarakat lebih waspada terhadap dampak yang ditimbulkan dari musim kemarau ini. Seperti berkurangnya ketersediaan air di sumber-sumber air, krisis air bersih, meningkatnya potensi gagal panen pada sektor pertanian, dan sebagainya.

"Kedepannya bisa nambah meluas mengingat musim kemarau masih lama," ucap dia.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini