Tidak jarang Latief harus beradu argumen dengan mereka. Bahkan, ia sering terlibat perkelahian dengan orang-orang tersebut.
"Kadang kita kasih tahu mereka melawan. Kita sering tukaran atau adu argumen. Paling parah ada yang harus kita laporkan kepolisi, ada juga yang harus kita berantem di lapangan. Kalau mereka bawa parang saya juga bawa parang gitu," jelas Latief.
Seiring berjalannya waktu, sambungnya, masyarakat yang tadinya sempat menolak kini berubah pikiran. Mereka sadar akan dampak negatif yang ditimbulkan bila pohon mangrove dirusak.
Saat ini, kegiatan penanaman mangrove tidak hanya dilakukan di Desa Pabean Udik. Hampir seluruh daerah pesisir di Indramayu melakukan hal serupa.
Latief sendiri merasa senang, sebab kesadaran untuk menjaga kelestarian hutan mamgrove kini mulai menular kebanyak orang.
"Sekarang orang mulai sadar. Kawan-kawan semakin banyak dan semakin peduli. Allhamdulillah lingkungan kita jadi baik," imbuhnya.
Olahan Mangrove Tingkatkan Pendapatan Ekonomi
Latief saat ini menggantungkan hidupnya pada pohon mangrove. Ia mengelola lahan mangrove yang memiliki luas sekitar 15 hektare.
Bersama kelompoknya bernama Rumah Berdikari ia sering melakukan inovasi, agar semua bagian dari pohon mangrove bisa menjadi olahan bernilai ekonomi tinggi.
"Saat zaman penjajahan dulu pasti terjadi krisis pangan. Saya pernah dapat cerita, orang-orang yang tinggal di pegunungan itu mencari bahan pangan alternatif dari tanaman di gunung. Saya berpikir ketika itu orang tua kita bahan pangan alternatifnya apa?. Ternyata itu adalah pohon mangrove," ungkap Latief.
Latief bercerita, salah satu produk pertama yang dihasilkan dari olahan mangrove adalah sirup. Setelah itu, ia bersama dengan teman-temannya kemudian rajin membuat olahan baru berbahan dasar mangrove seperti kecap, pakan ikan, sampai kopi mangrove. "Sekarang kita sedang kosentrasi membuat batik mangrove," tambahnya.
Dari mengolah mangrove ini, Latief merasa pendapatannya mengalami peningkatan. Sampai-sampai ia bisa menguliahkan anak pertamamya.
"Dalam melakukan kegiatan ini, rezeki saya terbesar dalam satu bulan pernah mendapat uang diatas Rp20 juta. Mangrove ini luar biasa," ujarnya.
Rumah Berdikari yang ia dirikan, merupakan mitra binaan dari Pertamina RU VI Balongan. Saat ini kelompoknya sedang mengembangkan wisata edukasi mangrove di Desa Pabean Udik.
Pertamina RU VI Balongan mensuport untuk pembuatan saung edukasi dan papan informasi yang saat ini masih dibuat.
Selain itu, Pertamina RU VI Balongan dan kelompok Rumah Berdikarinya sedang melakukan pemasangan ban untuk mencegah abrasi di kawasan Desa Pabean Udik. Selanjutnya bakal dilaksanakan juga kegiatan penanaman mangrove.
Latief memiliki prinsip bahwa keberadaan pohon mangrove yang jumlahnya semakin banyak, harus bisa mendatangkan manfaat untuk masyarakat.
"Harapan kedepan supaya orang melihat mangrove itu bukan hanya wisata. Tapi harus ada edukasi soal mangrove yang harus ditularkan ke generasi berikutnya," ucap Latief.
(Abu Sahma Pane)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.