Wanita 75 Tahun Dibebaskan Setelah 4 Tahun Disandera Militan

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 09 Oktober 2020 15:56 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 09 18 2291125 wanita-75-tahun-dibebaskan-setelah-4-tahun-disandera-militan-snLAqnMWqP.jpg Sophie Petronin. (Foto: Facebook)

BAMAKO – Empat orang yang diculik dan disandera oleh kelompok bersenjata di Mali telah dibebaskan pada Kamis (8/10/2020). Di antara mereka terdapat pekerja amal asal Prancis, Sophie Pétronin dan mantan Pemimpin Oposisi Mali Soumaïla Cissé.

Pétronin, (75), yang ditangkap pada Desember 2016, adalah warga negara Prancis terakhir yang disandera di mana pun di dunia. Sementara Cisse diculik pada Maret 2020 saat berkampanye untuk pemilihan parlemen.

BACA JUGA: Pasukan Elit Prancis Dikerahkan Bantu Bebaskan Sandera di Hotel Mali

Keduanya dibebaskan bersama dua warga Italia sebagai bagian dari pertukaran dengan lebih dari 100 militan terkait Al Qaeda yang ditahan. Kepresidenan Mali belum mengungkapkan bagaimana mereka bisa membebaskan para sandera.

Dua sandera Italia yang dibebaskan bernama Pierluigi Maccalli, seorang pendeta misionaris yang diculik pada 2018, dan Nicola Chiacchio, yang diyakini ditangkap saat bepergian di wilayah tersebut sebagai turis.

Pada Kamis, kepresidenan Mali mengatakan para sandera dibawa ke Ibu Kota, Bamako, dengan pesawat militer.

Ratusan pendukung Cissé kemudian berkumpul di bandara Bamako untuk menyambut pemimpin oposisi itu pada saat kedatangannya. Yang lainnya mengungkapkan kegembiraan mereka dengan berkendara melalui jalan-jalan ibu kota sambil membunyikan klakson mobil mereka.

"Saya sangat senang berada di sini, untuk Mali, untuk keluarga saya," kata Cissé sebagaimana dilansir BBC. "Saya telah menghabiskan enam bulan... dalam kondisi yang sangat keras... dalam keadaan terisolasi. "

BACA JUGA: Presiden dan Seluruh Pemerintahan Mali Mundur di Tengah Pemberontakan Militer

Pihak berwenang telah menangani pembebasan sandera selama berbulan-bulan.

Menyusul pembebasan Pétronin, Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Kamis mengatakan dia merasa "sangat lega" dan "senang mengetahui dia bebas".

"Kepada pihak berwenang Mali, terima kasih," katanya dalam cuitan di Twitter.

Angkatan bersenjata Mali dan internasional telah berjuang menghadapi menahan pemberontakan militan Islam di utara negara itu yang muncul pada 2012.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini