Nekat Terobos Perlintasan, 15 Orang Tewas Tertabrak Kereta Api

Mulyana, Okezone · Jum'at 09 Oktober 2020 13:53 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 09 525 2291000 15-orang-tewas-akibat-terobos-perlintasan-kereta-api-pVq2zuLvMr.jpg Pengendara terobos perlintasan kereta api (Foto: PT KAI DAOP 2 Bandung)

PURWAKARTA - PT KAI (Persero) Daop 2 Bandung, melansir, kasus kecelakaan di jalur kereta api selama 2020 ini masih cukup tinggi. Berdasarkan catatan, sejak Januari hingga awal Oktober, sudah 25 kasus kecelakaan. Dari puluhan kasus itu, 15 orang meninggal dunia. Serta, 10 warga lainnya mengalami luka berat.

Humas PT KAI Daop 2 Bandung, Noxy Citrea Bridara, mengatakan, 25 kasus kecelakaan ini terjadi di perlintasan sebidang dan di sepanjang jalur kereta. Kasus ini, masih cukup tinggi. Termasuk korban jiwa yang meninggal dunia.

"Kami, cukup prihatin dengan masih tingginya angka kecelakaan di jalur kereta ini," ujar Noxy, Jumat (9/10).

Sebenarnya, lanjut Noxy, kecelakaan itu bisa dihindari. Jika seluruh pengguna jalan mematuhi seluruh rambu-rambu yang ada. Serta, berhati-hati saat akan melalui perlintasan sebidang kereta api.

Akan tetapi, pada kenyataannya masih banyak warga yang menerobos perlintasan kereta api. Padahal, aksi tersebut sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan kecelakaan serius. Bahkan kematian.

Selain itu, setiap masyarakat yang menerobos perlintasan kereta maka mereka sudah melakukan pelanggaran undang-undang lalu lintas. Sehingga, bisa terkena sanksi.

Sesuai dalam UU No 22/ 2009 tentang Lalu Lintas dan Angutan Jalan Pasal 114 menyebutkan, pada perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib, berhenti ketika sinyal sudah berbunyi. Sertq, palang pintu kereta api sudah mulai di tutup, dan atau ada isyarat lain.

Sehingga, pengguna jalan lainnya, harusmendahulukan kereta api. Memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dahulu melintas rel.

Apabila masyarakat pengguna jalan melanggarnya, maka akan dikenakan sanksi sesuai Pasal 296. Dengan pidana kurungan paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750.000.

Kemudian, mengacu pada UU No 23/2007 tentang Perkeretaapian, Pasal 124 juga menyatakan pada perpotongan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api.

Maka dari itu, ketika sudah ada tanda-tanda mendekati perlintasan sebidang KA, setiap pengguna jalan diharuskan untuk mengurangi kecepatan dan berhenti. Pengguna jalan, harus tetap waspada dan mawas diri, tengok kanan kiri saat akan melintas dan pastikan tidak menerobos dengan alasan apapun.

"Hal ini harus menjadi budaya pada masing-masing pengguna jalan demi keselamatan perjalanan KA dan para pengguna jalan itu sendiri. Karena, jika terjadi kecelakaan semua pihak akan dirugikan," jelas Noxy.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini