Bahkan dalam pemilihan tahun ini, 23 persen kandidat Muslim ditolak, dibandingkan dengan hanya 0,3 persen untuk kelompok agama lain, menurut pengawas International Crisis Group.
Sithu Maung menggambarkan bagaimana dia diserang dari semua sisi ketika pencalonannya diumumkan.
"Orang-orang menyebarkan disinformasi, menyebut saya teroris dan mengatakan saya ingin bahasa Arab diajarkan di sekolah," tambah anggota parlemen terpilih itu.
"Bahkan beberapa Muslim mengkritik saya, menuduh saya tidak cukup berdoa dan menjadi ateis, atau non-konformis."
Dia mengatakan bertahun-tahun menerima tudingan-tudingan dan diskriminasi itu telah mempersiapkannya dengan baik untuk waktunya sebagai anggota parlemen.
Tahun ini, dia tidak akan menjadi satu-satunya Muslim di parlemen.
Pendukung partai NLD Win Mya Mya, (71 tahun), juga dengan nyaman memenangkan kursinya di Mandalay.
Analis yang berbasis di Yangon, David Mathieson, mengatakan merasa terdorong dengan melihat kemenangan kedua kandidat Muslim itu. Meski begitu tetapi mengatakan NLD perlu menangani "diskriminasi yang mengakar terhadap Muslim dan minoritas kambing hitam lainnya."
Namun, dia memperkirakan ketakutan NLD akan kehilangan dukungan akan menghalangi upaya-upaya tersebut.
Sithu Maung bertekad untuk tidak hanya terlihat mewakili Muslim.
"Jika ada konstituen saya yang terdegradasi atau menghadapi ketidakadilan, saya akan membela mereka."
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.