Tidak hanya pejuang santri Blitar dan sekitarnya. Tapi seluruh daerah di Jawa Timur," tambah Mbah Hisyam.
Dia mengingat saat itu, masih dalam suasana perang, Bung Tomo sang orator pertempuran 10 November Surabaya, juga pernah menemui Mbah Manshur.
Gus Maksum atau Kiai Maksum Jauhari dari Lirboyo Kediri yang sekaligus pendiri perguruan silat NU Pagar Nusa, juga rutin bertemu ayahnya. Setiap bulan puasa, Gus Maksum mondok di tempat Mbah Manshur.
Dilanjutkanya Mbah Hisyam, ayahnya tiga kali terjun langsung ke medan pertempuran di Surabaya. Pada saat Belanda melancarkan agresi pertamanya, Mbah Manshur sempat dicari dan dikejar kejar karena ketahuan sebagai penyepuh bambu runcing.
"Kami sekeluarga sempat mengungsi di kawasan gunung gedang, daerah lereng Gunung Kelud," kenang Mbah Hisyam. Pada masa setelah kemerdekaan, Mbah Manshur aktif sebagai pengurus Partai Masyumi, mewakili unsur NU.