Peneliti Kesehatan Mental: Satu dari 15 Remaja Ingin Bunuh Diri

Susi Susanti, Koran SI · Jum'at 20 November 2020 17:27 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 20 18 2313232 peneliti-kesehatan-mental-satu-dari-15-remaja-ingin-bunuh-diri-uSGWJtuUVt.jpg Foto: Shutterstock

LONDON -  Hampir seperempat remaja tercatat pernah melukai diri sendiri dan satu dari 15 telah mencoba bunuh diri.

Laporan mengejutkan ini berasal dari penelitian yang dilakukan University College London, Inggris. Penelitian ini mengungkapkan skala mengejutkan dari krisis kesehatan mental yang mempengaruhi anak-anak muda di Inggris.

Pada penelitian yang dilakukan tahun lalu, sebelum pandemi melanda, para peneliti mengajukan serangkaian pertanyaan kepada lebih dari 10.000 anak usia 17 tahun tentang kesehatan mental mereka. Secara keseluruhan, satu dari enam remaja dilaporkan mengalami gangguan mental parah dan tekanan psikologis tingkat tinggi.

Studi tersebut menemukan sebanyak 28 persen anak perempuan dan 20 persen anak laki-laki pernah melukai diri sendiri pada tahun lalu. Pada usia 14 tahun, 15 persen dari kelompok yang sama telah melukai diri mereka sendiri.

(Baca juga: Di Negara Ini, Ribuan Bus Pariwisata Berdebu, Tak Terurus Bagaikan "Kuburan")

Satu dari sepuluh anak perempuan mengatakan mereka pernah mencoba bunuh diri dibandingkan dengan 4 persen anak laki-laki. Kesehatan mental yang buruk lebih banyak terjadi di antara remaja kulit putih dan yang memiliki latar belakang kurang beruntung.

Kemudian remaja yang mengalami kondisi seksual berbeda seperti lesbian, gay, biseksual, dan transgender dua kali lebih mungkin melukai diri sendiri dan tiga kali lebih mungkin melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan remaja heteroseksual.

“Ini adalah bukti pertama yang muncul tentang prevalensi percobaan bunuh diri di antara anak berusia 17 tahun di seluruh Inggris, dan temuan bahwa satu dari 15 telah melukai diri sendiri dengan niat bunuh diri mengkhawatirkan,” ungkap peneliti Profesor Emla Fitzsimons.

Dia mengatakan kondisi pandemi akan memberikan tekanan tambahan bagi para remaja yang sudah menghadapi masalah kesehatan mental utama sebelumnya.

Peneliti lainnya, dr Praveetha Patalay mengatakan penemuan ini menggarisbawahi dukungan kesehatan mental yang dibutuhkan oleh generasi ini.

“Mendukung kaum muda yang menderita gangguan mental harus menjadi prioritas. “Usia 17 menandai usia yang penting sebelum banyak transisi kehidupan utama, termasuk berakhirnya pendidikan wajib dan, bagi beberapa, keluar dari rumah,” terangnya.

“Dengan berakhirnya dukungan dari layanan kesehatan mental anak dan remaja (CAMHS) di sekitar usia kritis ini, banyak orang muda jatuh melalui celah antara CAMHS dan layanan kesehatan mental orang dewasa, yang berpotensi memperburuk hasil pada waktu yang tepat ketika dukungan paling dibutuhkan,” tambahnya.

Sementara itu, peneliti lain dr Bernadka Dubicka dari Royal College of Psychiatrists menyayangkan hasil temuan ini.

“Sangat menyedihkan melihat tingkat tindakan menyakiti diri yang begitu tinggi pada orang muda. Sayangnya, angka-angka ini mengkonfirmasi apa yang dilihat para dokter setiap hari,” terangnya.

“Kaum muda semakin beralih ke tindakan menyakiti diri sendiri untuk mengungkapkan rasa sakit mereka dan sering berakhir dalam krisis karena mereka tidak mendapatkan bantuan tepat waktu,” ujarnya.

Dia pun menyerukan lebih banyak investasi dalam layanan kesehatan mental remaja. “Rencana Jangka Panjang Layanan Kesehatan Nasiona Inggris (NHS) mencakup komitmen untuk membantu lebih banyak anak dan remaja dengan kesulitan kesehatan mental. Untuk mewujudkan rencana ambisius ini, kami sangat perlu meningkatkan jumlah dokter spesialis yang bekerja dan pelatihan di bidang ini,” terangnya.

“Pemerintah juga harus bersiap untuk musim dingin yang sulit. Kami membutuhkan paket dukungan darurat untuk layanan kesehatan mental karena kaum muda sekarang mengalami gangguan pada pendidikan dan kehidupan sosial dan keluarga mereka sebagai akibat dari pandemi dan dampak ekonominya,” jelasnya.

Bulan lalu, NHS merilis penelitian yang menunjukkan jika “lockdown” semakin memperburuk krisis kesehatan mental anak.

Adapun tiga tahun lalu, diketahui satu dari sembilan anak dan remaja digolongkan mungkin mengalami gangguan jiwa, tetapi jumlahnya sekarang menjadi satu dari enam.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini