Di-bully di Snapchat, Anak Ini Akhiri Hidupnya

Susi Susanti, Koran SI · Selasa 24 November 2020 11:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 24 18 2315049 di-bully-di-snapchat-anak-ini-akhiri-hidupnya-Gp6MyOIIxC.jpg Foto: Daily Star

INGGRIS - Seorang ibu harus berduka karena buah hati kesayangannya harus meregang nyawa dengan tangannya sendiri. Yang lebih menyedihkan pemicu bunuh diri ini disebabkan bullying yang dia alami di media sosial (medsos) Snapchat.

Jack Parker, 15, ditemukan tewas di hutan dekat rumahnya di Astley, Wigan, di Greater Manchester pada 28 Juli lalu.

dikutip Daily Star, sang ibu, Karen Robinson, 43, mengatakan anaknya bunuh diri karena diancam oleh pelaku bullying di Snapchat.

Jack diketahui mengirim satu pesan Snapchat yang dikirim ke mantan pacarnya. “Pacar Anda akan melompat xoxo Beri tahu dia,” isi pesannya.

(Baca juga: Tutupi Perselingkuhan, Putri Haya Bayar Bodyguardnya USD1,6 Juta hingga Berikan Hadiah Mewah)

Mantan pacarnya menyimpan isi pesan itu dan kemudian memperlihatkannya ke Manchester Evening News.

Dia juga melaporkan jika Jack sebelum mengakhiri hidupnya sempat meneleponnya dan membacakan serangkaian pesan Snapchat yang baru saja dia terima.

Usai membaca, Jack langsung menghapus pesan itu. Namun sang mantan pacar langsung memberi tahu keluarganya jika Jack mengatakan dirinya telah menerima ancaman jika seseorang akan datang ke rumahnya dan menembak kepalanya. Jack juga menyarankan agar pacarnya melarikan diri.

Melalui pesan suara yang dia kirimkan kepada mantan pacarnya, Jack terdengar bingung, stres dan terisolasi.

“Kamu hanya tidak mengerti bagaimana perasaanku. Tapi kamu tidak perlu khawatir karena semuanya akan menjadi akhir untukku segera,” bunyi satu pesan suara Jack.

Sementara itu, sang ibu, yang bekerja sebagai asisten pengajar, mengatakan dirinya ingin mempublikasikan hal ini agar bisa membantu anak anak lain agar tidak terintimidasi.

“Saya tidak ingin keluarga lain mengalami ini. Ini mengerikan. Saya pikir dia benar-benar berjuang dengan masalah lockdown dan tidak melihat pacarnya dan jumlah tugas sekolah di rumah yang cukup banyak. Aku tahu dia sedikit sedih karena pacarnya. Dia bilang dia tidak bisa mengerjakan PR-nya. Dia bilang dia tidak bisa melakukannya,” terangnya.

“Dia tidak makan dengan benar dan dia tidak tidur dengan nyenyak. Saya biasa bertanya kepadanya apakah dia di-bully dan dia akan terdiam,” ujarnya.

Saat ditanya apakah bullying yang menyebabkan Jack bunuh diri, Karen melihat itu adalah alasan kuat.

“Saya pikir itulah yang mendorongnya. Saya pikir dia memiliki pikiran tentang seseorang yang datang ke rumah membuatnya takut sampai mati,” ungkapnya.

Karen pun telah meluncurkan petisi online untuk meningkatkan usia minimum Snapchat dari 13 tahun menjadi 18 tahun.

Sementara itu, polisi di Greater Manchester mengatakan tidak ada keadaan mencurigakan seputar kematian yang menimpa Jack. Hal senada diungkapkan juru bicara Snapchat.

“Tidak ada yang pantas ditindas dan hati kami tertuju pada orang yang dicintai Jack. Kami merancang Snapchat sebagai tempat yang memprioritaskan pertemanan dan pengaturan default membuat seseorang tidak mungkin menerima pesan dari akun yang belum mereka tambahkan sebagai teman,” terangnya.

“Setiap Snapchatter yang mengalami penindasan dapat dengan mudah melaporkannya kepada kami langsung di aplikasi dan tim keamanan kami akan melakukan yang terbaik untuk membantu. Kami juga menyediakan dukungan kesehatan mental dalam aplikasi dengan fitur yang disebut Here For You, tempat Snapchatter bisa mendapatkan saran ahli dari organisasi seperti Young Minds, the Samaritans, dan Diana Award,” tambahnya.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini