Promosikan Toleransi, Kemenag dan Institut Leimena Gelar Webinar Kerukunan Umat Agama Abrahamik

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 24 November 2020 20:31 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 24 18 2315502 promosikan-toleransi-kemenag-dan-institut-leimena-gelar-webinar-kerukunan-umat-agama-abrahamik-98hp8Tmuum.jpg

JAKARTA - Leimena Institute bekerja sama dengan kementerian agama Republik Indonesia menggelar webinar Internasional bertajuk “A New Narrative of Abrahamic Family Tolerance from The United Arab Emirates” atau “Sebuah Narasi Baru Toleransi Keluarga Abrahamic dari Uni Emirat Arab” pada Selasa (24/11/2020).

Acara ini digelar dalam rangka memperingati Hari Toleransi Internasional sekaligus mempromosikan toleransi antar agama-agama Abrahamik, Islam, Kristen, dan Yahudi.

BACA JUGA: Menlu: Sekjen PBB Tanggapi Positif Ajakan Jokowi Perkuat Toleransi 

Webinar diisi oleh para nara sumber yang merupakan pegiat toleransi antar umat beragama, yaitu: Dr. Ali Rashid Al Nuaimi, anggota Dewan Nasional Uni Emirat (UEA); Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, tenaga ahli utama Kantor Kepresidenan RI; Rabi David Sapperstein, mantan duta besar Amerika Serikat untuk kebebasan beragama internasional; dan Pendeta Johnnie Moore, komisioner Komisi Kebebasan Beragama Internasional Amerika Serikat.

Para narasumber akan menceritakan dan berdiskusi mengenai pengalaman mereka yang mempromosikan toleransi umat beragama.

Dalam pidato pembukaannya, Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan bahwa umat beragama tidak boleh lagi membiarkan agama dijadikan alat untuk memicu intoleransi dan tindakan ekstremisme. Dia menyerukan agar umat beragama mendorong toleransi tanpa melihat individu dan batas-batas negara.

BACA JUGA: Respons Pernyataan Presiden Prancis, Jokowi Ajak Dunia Kedepankan Persatuan dan Toleransi

"Sudah saatnya kita melihat toleransi dan perdamaian lebih besar dari kita sendiri, lebih besar dari negara kita masing-masing,” katanya.

Menag juga menegaskan bahwa tidak ada agama Abrahamik yang mengajarkan kebencian, sebaliknya, semua mengajarkan kasih sayang dan persaudaraan. Dia menegaskan bahwa sudah seharusnya umat beragama bekerja sama mengembalikan agama kepada hakekatnya yang sejati.

“latar belakang agama yang berbeda tidak jadi penghalang bagi kita untuk bekerja sama,” ujarnya.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini