Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

2.500 Karyawan Positif Covid-19, Pabrik Sarung Tangan di Malaysia Tutup

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Kamis, 26 November 2020 |08:00 WIB
2.500 Karyawan Positif Covid-19, Pabrik Sarung Tangan di Malaysia Tutup
Karyawan mengecek sarung tangan lateks (Foto : BBC Indonesia/AFP)
A
A
A

Gaji yang rendah menyebabkan banyak di antara mereka terikat utang dengan badan perekrutan.

Bulan September lalu, para pekerja migran mengatakan kepada Los Angeles Times terkait kondisi kerja yang sulit di pabrik-pabrik Top Glove. Mereka menceritakan jam kerja 72 jam per minggu, asrama dengan kondisi sesak dan rendahnya gaji.

Beberapa minggu kemudian, Top Glove mengatakan mereka meningkatkan gaji untuk kompensasi biaya perekrutan para karyawan, setelah mendapatkan rekomenasi dari konsultan independen.

Glorene Das, direktur Tenaganita, LSM yang memusatkan pada hak buruh, mengatakan sejumlah perusahaan Malaysia yang menggantungkan diri pada pekerja migran "tidak memenuhi keperluan mendasar para pekerja mereka."

"Para pekerja ini rentan karena mereka tinggal di asrama yang sesak dan melakukan pekerjaan tanpa kemungkinan jaga jarak," katanya kepada BBC.

"Selama masa pandemi, perusahaan memiliki tanggung jawab besar terhadap karyawa. Namun kami mendengar kasus para buruh tidak mendapatkan makanan cukup dan bahkan gaji mereka ditahan," tambahnya.

Saham Top Globe jatuh 7,5% Selasa (24/11), setelah pengumuman penutupan pabrik. Tetapi sepanjang tahun ini, harga saham perubahan itu telah meningkat empat kali lipat, lapor Reuters.

(Angkasa Yudhistira)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement