Pakistan Berlakukan Hukuman Kebiri Kimia ke Pemerkosa Seorang Ibu di Depan Anaknya

Susi Susanti, Koran SI · Kamis 26 November 2020 14:37 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 26 18 2316661 pakistan-setujui-hukuman-kebiri-kimia-ke-pemerkosa-seorang-ibu-di-depan-anaknya-uQYeA2oYop.jpg Perdana Menteri Imran Khan (foto: reuters)

PAKISTAN - Setelah berita tentang beberapa kasus pemerkosaan yang terus meningkat di seluruh negeri dan menyebabkan gelombang protes, pemerintah Pakistan akhirnya menyetujui hukuman kebiri kimia bagi pelaku pemerkosaan.

Perdana Menteri (PM) Imran Khan diketahui memimpin rapat kabinet untuk membuat dua perubahan besar dalam Ordonansi Anti-Pemerkosaan (Investigasi dan Pengadilan) 2020 dan Ordonansi KUHP Pakistan (Amandemen) 2020.

Perubahan tersebut akan mengubah definisi pemerkosaan dengan memasukkan kata “transgender” dan “gang-rape”.

Baca Juga: Perkosa 2 Wanita, Penjahat Kambuhan Ditangkap Polisi

Selain itu, tes “dua jari” kontroversial yang melibatkan pengujian kelemahan otot vagina dengan jari akan dilarang.

“Kabinet federal telah menyetujui peraturan anti-pemerkosaan yang mengubah definisi dasar pemerkosaan dan menyarankan hukuman berat untuk pemerkosaan berkelompok dan hukuman gantung pada pemerkosa,” jelas Menteri Informasi Shibli Faraz saat konferensi pers, dikutip Dawn News.

Kendati demikian, kebijakan baru ini mendapat reaksi keras sejak awal diumumkan.

“Meskipun kita seintuitif mungkin rasanya ingin pemerkosa menanggung versi trauma yang mereka timbulkan pada korbannya, jenis pembalasan ini pada akhirnya salah secara etis, dan gagal mengatasi akar penyebabnya, yakni kekerasan berbasis gender. Gagasan bahwa pemerkosaan masih dianggap sebagai cara yang layak untuk mengekspresikan kekuasaan dan dominasi,” terang Zahra Khozema, dikutip The New Arab.

“Ini menggambarkan kebencian terhadap wanita dalam arti ekstrim dan merupakan alat untuk penghinaan,” ujarnya.

“Mungkin solusi yang lebih menjanjikan adalah mendengarkan para ahli dan aktivis, dan yang paling penting, mempercayai para penyintas, sehingga mereka tidak dibuat merasa seperti membuat keributan saat membela diri atau mencari keadilan,” ungkapnya.

“Solusi yang lebih ambisius namun bertahan lama akan mengubah cara kita membesarkan anak laki-laki kita,” tambahnya.

Kebijakan ini juga dipicu insiden mengerikan awal tahun ketika seorang ibu diperkosa beramai-ramai di depan anak-anaknya. Sebelumnya, pada 9 September lalu, sekitar pukul 03.00 pagi waktu setempat, seorang wanita sedang mengemudi di jalan raya bersama anak-anaknya. Kemudian kehabisan bahan bakar dan harus berhenti di pinggir jalan. Tak lama berselang, dua perampok masuk ke mobilnya, mencuri perhiasannya dan memperkosanya di depan kedua anaknya.

Pada Oktober lalu, kasus mengejutkan lainnya terungkap setelah seorang wanita dan putrinya yang berusia empat tahun diculik dan diperkosa beramai-ramai di Sindh.

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini