Share

Rogoh Kocek Hingga Rp128 Juta, Ibu Ini Hidup Bersama 1.300 Anjing

Susi Susanti, Koran SI · Selasa 08 Desember 2020 07:05 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 07 18 2323370 rogoh-kocek-hingga-rp128-juta-ibu-ini-hidup-bersama-1-300-anjing-ALV80DtuCd.jpg Foto: Bangkok Post

CHONGQING - Dua puluh tahun lalu, Wen Junhong menyelamatkan seekor anjing terlantar dari jalan-jalan di Chongqing di barat daya China.

Tapi sekarang, dia memiliki lebih dari 1.300 anjing. Dan angka ini terus bertambah.

Wen mengatakan, setelah memelihara anjing pertama itu, seekor anjing peking yang diberi nama Wenjing, yang berarti lembut dan pendiam dalam bahasa China, Wen merasa tidak bisa berhenti.

Dia mengaku kerap dibayang-bayangi kekhawatiran jika anjing-anjing itu mengalami hal buruk di jalanan. Seperti kecelakaan, hingga diculik untuk perdagangan daging anjing.

“Penting untuk menjaga anjing-anjing ini. Masing-masing dari kita harus menghormati kehidupan, dan Bumi bukan hanya untuk manusia tetapi untuk semua hewan,” terangnya, dikutip Channel News Asia.

Selain hewan yang ditinggalkan di rumahnya dan hewan yang tersesat, Wen mengatakan dia menerima panggilan setiap hari untuk membantu lebih banyak anjing.

Tak hanya hidup bersama anjing. Wen juga hidup bersama hewan lainnya. Yakni seratus kucing, empat kuda dan kelinci serta burung yang tersebar.

“Beberapa orang mengatakan saya psikopat,” ujarnya.

(Baca juga: Pernah Positif Covid-19, Pangeran Albert Ungkap Kelelahan Terus Menerus)

Setiap harinya, Wen memiliki tugas yang cukup berat. Yakni bangun pukul 04.00 pagi waktu setempat untuk membersihkan 20 hingga 30 barel kotoran anjing semalaman.

Lalu dia harus bergegas memasak lebih dari 500 kilogram beras, daging, dan sayuran untuk hewan. Tak lupa, dia harus membakar sampah di halaman belakang.

Setiap ruangan di rumah dua lantai itu penuh dengan kandang, bertumpuk satu sama lain di samping dan di atas.

Setelah menerima banyak keluhan dari tetangga, Wen memutuskan pindah ke lereng bukit. Sata ini rumahnya dikelilingi oleh pagar dan gerbang yang terkunci.

Untuk tugas mulia ini, Wen harus mencari sumber uang dari manapun. Dia rela menjual apartemennya dan melakukan pinjaman hingga USD9.100 (Rp128 juta). Dia juga menarik dana pensiun serta tabungan hidupnya dari karir sebelumnya sebagai teknisi lingkungan.

Selain merogoh duit dari dompetnya sendiri, dia juga menerima sumbangan setelah mendapat perhatian di media sosial (medsos). Di sini, dia dijuluki “Bibi Chongqing Wen”.

Wen berharap perhatian itu akan mengarah pada adopsi. Dia juga sempat mengalami pelecehan online, setelah gambar kondisi kehidupan hewan dirumahnya diposting.

“Hidup di kandang sekecil itu tidak lebih baik dari menjadi anjing liar,” tulis seorang kritikus di media sosial.

Di rumahnya, anjing besar disimpan di luar, dan yang kecil di kandang di dalam ruangan.

Dia memiliki enam anggota staf, yang tidur di kamar yang penuh dengan kantong makanan anjing. Satu stafnya, Yang Yiqun, menunjukkan lengan dan tangan yang penuh bekas luka dan goresan.

“Saya suka anjing-anjing itu meskipun mereka menggigit saya,” ujar penduduk lokal Sichuan yang telah bekerja dengan Wen selama lima tahun.

“Dia berada di bawah tekanan terlalu banyak untuk menanganinya sendiri,” tambahnya.

Sebelumnya kepemilikan anjing disebut hobi borjuis dan dilarang di bawah kepemimpinan Ketua Mao, pendiri Komunis China. Namun pandangan ini telah berubah secara drastis.

Kepemilikan hewan peliharaan semakin meningkat pesat. Namun menurut badan amal AnimalsAsia, China belum memiliki undang-undang kesejahteraan hewan nasional dan ada puluhan juta anjing serta kucing yang tersesat.

Hewan liar di perkotaan jarang disterilkan, memperburuk masalah dan membuat pusat penyelamatan hewan kewalahan dan kekurangan dana.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini