3M dan Vaksinasi Mesti Berjalan Seiring

Agustina Wulandari , Okezone · Jum'at 11 Desember 2020 15:23 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 11 1 2325880 3m-dan-vaksinasi-mesti-berjalan-seiring-5gzvRUCGG2.jpg Foto: Dok.Sindonews

JAKARTA - Kedatangan vaksin Sinovac pada Minggu (6/12/2020) lalu menjadi kabar baik bagi upaya pencegahan pandemi Covid-19. Selain sebagai bukti keseriusan pemerintah dalam menangani pandemi, adanya vaksin juga memberi harapan untuk mengakhiri pandemi.

Setelah datangnya vaksin Covid-19, pemerintah masih harus menunggu hasil evaluasi Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) untuk melaksanakan program vaksinasi kepada masyarakat. Namun, setelah nantinya pelaksanaan vaksinasi berjalan, masyarakat harus tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak). Dengan cara itulah Indonesia bisa cepat keluar dari pandemi Covid-19.

Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Ede Surya Darmawan membenarkan bahwa vaksin adalah upaya protektif terhadap penyakit spesifik. Beberapa virus dan bakteri di Indonesia bahkan sudah lama dilawan dengan imunisasi, sehingga di Indonesia kita mengenal program imunisasi, kemudian beberapa penyakit yang bisa dicegah melalui imunisasi bisa tereliminasi.

“Vaksin Covid-19 ini juga diharapkan memiliki peran seperti itu nantinya. Sejauh ini vaksin sebagai intervensi kesehatan masyarakat dalam pencegahan penyakit menular sudah terbukti efektif sejak lama,” ujar Ede dalam acara Dialog Produktif bertema "Vaksin Datang, Tetap Disiplin 3M” yang diselenggarakan oleh Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) kemarin.

Ede menjelaskan perhitungan untung rugi dari program vaksinasi nantinya, yang tentu akan lebih banyak untungnya ketimbang ketika harus sakit. Sakit bukan hanya menelan biaya penyembuhan rata-rata Rp184 juta per orang, tapi juga rugi karena tidak bisa produktif bekerja.

Terkait efek samping setelah vaksinasi, Ede menyebut itu hanya ketidaknyamanan yang bersifat sementara. Sakit hanya karena ditusuk jarum suntik, kemudian ada bengkak, tubuh panas, tapi tidak akan berlangsung lama. Kalau vaksinnya efektif akan langsung terbentuk antibodi, orang yang disuntik akan kebal terhadap suatu penyakit yang spesifik.

“Untuk vaksin, mari kita bersiap menyambut vaksinasi sebagai salah satu bentuk proteksi spesifik agar tidak tertular Covid-19. Tapi, proses mendapatkan vaksin masih membutuhkan waktu karena itu menjaga 3M itu bukan lagi pilihan, tapi keharusan di situasi pandemi seperti ini. Bahkan, khusus untuk cuci tangan tidak boleh lepas, tidak ada Covid-19 pun kita harus terus cuci tangan,” ujarnya.

Seorang penyintas Covid-19, Abi Satria, menceritakan penderitaannya saat terpapar Covid-19 yang menjadi kerugian secara fisik dan mental. Kondisi fisiknya di hari keenam dirawat di Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, tubuh menggigil karena demam, meski AC sudah dimatikan. Setelah sembuh dari Covid-19, kondisi fisiknya membaik, tapi secara mental masih kurang stabil.

“Aku masih takut keluar dan muncul di depan publik. Setelah aku konsultasikan, ternyata memang itu dampak psikologis. Jadi bukan hanya terdampak pada fisik, tapi juga mental,” tuturnya pada kesempatan yang sama.

Abi Satria juga mengatakan, siapa saja bisa tertular Covid-19 , di mana saja dan kapan saja. Bisa jadi tertular dari benda-benda di sekitar kita. Dia menyesalkan sebagian masyarakat yang menganggap Covid-19 hanya konspirasi. Dia meyakinkan, Covid-19 itu nyata dan berbahaya. Karena itu, Abi Satria mengimbau kepada masyarakat untuk tetap disiplin menjalankan 3M.

“Untuk semua masyarakat yang masih abai dengan 3M, tolong jangan egois karena kita tidak pernah tahu kapan bertemu orang yang imunitasnya sedang rentan. Kita tidak pernah sadar bahwa kita membawa virus kepada yang lebih tua atau muda. Jadi, jangan egois dan patuhi protokol 3M,” pesannya.

Pengidap Penyakit Tidak Menular Paling Rentan

Sementara itu, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Cut Putri Arianie mengingatkan bahwa semua orang yang mengidap penyakit tidak menular (PTM) meliputi penyakit hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, kanker, gagal ginjal, asma, talasemia, dan sebagainya untuk meningkatkan kewaspadaan guna mencegah penularan Covid-19 . Di masa pandemi, penyakit ini menjadi pembunuh terbesar dan pembiayaan kesehatan tertinggi.

“Penyakit ini kita ketahui disebabkan oleh metabolik, gangguan lingkungan dan perilaku individu. Di masa pandemi juga penyakit ini menjadi komorbid atau penyakit penyerta Covid-19 dengan kematian yang cukup tinggi. Penyakit tidak menular ini sering juga disebut sebagai the silent killer,” ungkapnya pada webinar kesehatan perempuan Indonesia ”Cerdik Keluarga Sehat, Cegah Penyakit Tidak Menular Cegah Komorbid Covid-19” kemarin.

Orang dengan penyakit penyerta ini rentan terinfeksi di masa pandemi Covid-19 karena semuanya bermuara pada rendahnya fungsi kekebalan tubuh. Apalagi, penyakit tidak menular ketika sudah diidap oleh seseorang biasanya akan bersifat permanen dan pengidapnya akan mengalami gangguan fungsi organ tubuh.

“Sering kali diimbau kepada orang-orang yang memiliki penyakit penyerta di masa pandemi untuk tetap berada di rumah. Tidak perlu keluar apabila tidak perlu, terapkan protokol kesehatan,” katanya.

Cut mengungkapkan, angka kematian komorbid pada masa pandemi ini cukup memprihatinkan. Penderita hipertensi sekitar 11,8% meninggal dengan perburukan karena terinfeksi. Penderita diabetes 10,5%, diikuti penyakit jantung 6,7%, penyakit ginjal 3%, paru kronik 2,3%, kanker 0,5% dan sebagainya.

Pemerintah, ujar Cut, tidak ingin menambah jumlah orang yang meninggal dengan komorbid pada masa pandemi Covid-19 ini. Sebisa mungkin penderita penyakit tidak menular harus menghindar dari situasi yang memperburuk kondisinya, salah satunya menghindari stres.

“Banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan di masa pendemi sangat berpengaruh pada ketahanan pangan, ketahanan imunitas. Jangan lupa bahwa stres itu faktor risiko dari hipertensi,” katanya.

Pada kesempatan sama Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan, penyakit tidak menular dipengaruhi oleh pola hidup masyarakat. Pergeseran pola hidup di masyarakat akan memengaruhi perubahan dalam pola penyakit. “Saat ini telah terjadi perubahan pola penyakit di mana kejadian penyakit tidak menular semakin meningkat,” ucapnya.

Namun, Terawan menekankan bahwa penyakit ini dapat dicegah dan dideteksi sejak awal, apabila individu memahami dan mengetahui apa yang dapat dilakukan secara mandiri. Adapun risiko terjadinya penyakit tidak menular sangat dipengaruhi pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, merokok, dan stres.

Guna menghindari penyakit tidak menular perlu dilakukan berbagai pendekatan dalam rangka pencegahan, yaitu melalui berbagai upaya promosi kesehatan serta deteksi dini penyakit tidak menular. Perempuan, kata Terawan, menjadi pemegang peran penting untuk memantau kesehatan keluarganya, terutama agar orang dengan penyakit tidak menular tidak terpapar Covid-19 .

“Peran organisasi perempuan adalah salah satu unsur pendukung dalam keberhasilan program kesehatan. Perempuan adalah pemegang peran penting dalam memantau tumbuh kembang anak dan kesehatan keluarga. Diharapkan perempuan dapat menjadi agen perubahan untuk keluarganya sehingga gaya hidup sehat dapat diterapkan sedini mungkin dalam lingkup keluarga dan lingkungan,” imbau Terawan. (CM)

(yao)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini