Trump Dimakzulkan Lagi, Ini Para Presiden AS yang Lengser karena Pemakzulan

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 14 Januari 2021 10:34 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 14 18 2344196 trump-dimakzulkan-lagi-ini-para-presiden-as-yang-lengser-karena-pemakzulan-8Nma2n3eWW.jpg Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: Reuters)

Meski dimakzulkan, Johnson tetap memegang jabatannya setelah pemungutan suara di Senat memenangkannya dengan selisih satu suara. Para sejarawan mengatakan bahwa ada indikasi penyuapan dalam proses pemungutan suara itu.

Richard Nixon


Pada November 1972, Nixon kembali terpilih sebagai presiden AS dengan margin kemenangan terbesar dalam sejarah. Namun, lima bulan sebelumnya, sebuah pencurian di markas Partai Demokrat di kompleks Hotel Watergate, memicu rangkaian peristiwa yang mendorong pemakzulannya.

Penyelidikan terhadap pencurian itu mengungkap praktik kampanye kotor untuk menyerang lawan-lawan politik Nixon, yang dibiayai oleh dana rahasia dan dirancang oleh sang presiden sendiri. Selama berbulan-bulan, Nixon secara terbuka membantah terlibat atas skema spionase tersebut.

Pada 1973, penyelidikan pemakzulan dibuka setelah Nixon memecat dua pejabat tinggi di departemen kehakiman karena menolak memecat Archibald Cox, jaksa penuntut khusus yang menyelidiki kasus Watergate.

Barang-barang bukti pun bermunculan, termasuk rekaman percakapan Nixon di Ruang Oval.

Pada Juli 1974, sepertiga dari anggota Partai Republik yang terpilih di komite kehakiman DPR bergabung dengan Demokrat untuk menyetujui tiga pasal pemakzulan Nixon: menghalangi keadilan, penyalahgunaan kekuasaan, dan penghinaan terhadap Kongres.

Di bawah tekanan dari sesama anggota Partai Republik, Nixon mengundurkan diri pada 9 Agustus 1974, sebelum DPR memberikan suara untuk pemakzulannya.

Bill Clinton


Lengsernya Presiden ke-42 AS, Bill Clinton pada 1998 banyak dikaitkan pada hubungan gelapnya dengan karyawan magang Gedung Putih, Monica Lewinsky, namun, hal itu tidak sepenuhnya tepat. Clinton dimakzulkan karena dia dituduh berbohong kepada dewan juri pengadilan dalam kasus lain, yang masih berkaitan dengan perselingkuhan tersebut.

Menanggapi gugatan pelecehan seksual yang diajukan oleh mantan pegawai Negara Bagian Arkansas, Paula Jones, Clinton membantah dalam posisi bersumpah dan wawancara video bahwa ia tidak memiliki hubungan seksual dengan Lewinsky.

Penegasan itu dibantah oleh sebuah laporan yang diajukan ke Kongres oleh penasihat independen Kenneth Starr, yang mendokumentasikan hubungan Clinton dengan Lewinsky secara mendetail.

Proses pengaduan terhadap Clinton dibuka pada Oktober 1998, dan DPR AS menyetujui dua pasal pemakzulan terhadapnya, yaitu sumpah palsu dan menghalangi keadilan. Pada Desember 1998. dua pasal lain yang diusulkan, yakni penyalahgunaan kekuasaan dan sumpah palsu untuk kedua kalinya ditolak.

Senat yang dipimpin Partai Republik membebaskan Clinton karena hanya mendapat 50 suara dari 67 suara dibutuhkan.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini