Ayah-Anak Ini Dituduh Jalankan Sekolah Islam Ilegal

Susi Susanti, Koran SI · Kamis 14 Januari 2021 14:16 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 14 18 2344361 ayah-anak-ini-dituduh-jalankan-sekolah-islam-ilegal-AoCJkkcrKN.jpg Foto: BBC

INGGRIS – Ayah dan anak yang berprofesi sebagai kepala sekolah dan guru ini terus mengajar meskipun dinyatakan bersalah karena menjalankan sekolah Islam ilegal senilai 2.500 poundsterling (Rp48 juta) per tahun.

Nadia Ali, 39, dan Arshad Ali, 74, menyangkal jika sekolah mereka Ambassadors High School di Streatham, di London Selatan, adalah sekolah penuh waktu. Mereka menegaskan sekolah mereka hanya menawarkan pendidikan selama 18 jam per minggu.

Mereka diduga mengenakan biaya tahunan sebesar 2.500 poundsterling (Rp48 juta) per tahun. Sekolah ini didirikan pada 2018 dan sudah tercatat 45 siswa didik hingga saat ini.

Di pengadilan, para hakim mendengar sekolah tersebut gagal mempromosikan nilai-nilai dasar Inggris atau melakukan pemeriksaan latar belakang yang tepat terhadap guru.

Setelah dijatuhi hukuman non-penahanan pada September 2019, mereka diduga terus menjalankan sekolah tersebut hingga Maret 2020.

(Baca juga: Pencuri Toilet yang Dijuluki "Dewa Toilet" Akhirnya Dibekuk Polisi)

Pasangan itu tidak diharuskan menghadiri sidang hari ini. Namun mereka dilaporkan akan membantah semua tuduhan itu.

“Itu akan tergantung pada apakah lembaga itu memberikan pendidikan penuh waktu kepada anak-anak, kemudian kemungkinan besar akan menjadi sekolah,” terang Jaksa Paul Jarvis, dikutip Daily Mail.

(Baca juga: Kerusuhan Landa Ibu Kota Belgia, Mobil Raja Philippe Dilempari Proyektil)

Nadia Ali dan Arshad Ali, keduanya dari Streatham, masing-masing menyangkal ketentuan yang melanggar peraturan yang bertentangan dengan Undang-Undang Pendidikan dan Keterampilan 2008.

Mereka tetap dengan jaminan menjelang persidangan dua hari di hadapan hakim pada 5 dan 8 Maret mendatang.

Diketahui,. meskipun Kantor Standar Pendidikan Inggris Ofsted menandai hampir 300 sekolah yang dicurigai tidak terdaftar sejak 2016. Namun hanya segelintir kasus yang pernah dibawa ke pengadilan karena kewenangan investigasi yang terbatas dari regulator.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini