JAKARTA – Gempa dahsyat yang mengguncang Mamuju, Sulawesi Barat telah memutuskan aliran listrik, membuat daerah yang terdampak gelap gulita, dengan hanya lampu penerangan darurat yang memancarkan cahaya redup di beberapa titik.
Di tengah kondisi tersebut, alat penerangan alternatif, “lampu air garam” yang dibawa ke lokasi musibah oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membawa cahaya terang. Sebanyak 100 unit lampu air garam yang dibawa Kepala BNPB, Letjen Doni Monardo menjadi penerangan di lokasi pengungsian, di sekitar rumah dinas Gubernur Sulawesi Barat.
BACA JUGA: Tinjau Majene, Risma: Dapur Umum untuk Korban Gempa Sudah Dibuat
Menurut catatan jurnalis Egy Massadiah yang ikut bersama rombongan Doni Monardo, lampu-lampu itu diterbangkan bersama pesawat Hercules TNI AU pada Jumat (15/1/2021) siang.
“Lampu-lampu ini benar-benar terobosan. Ide brilian anak bangsa yang kemudian cepat disambar oleh Kepala BNPB, karena sangat cocok untuk daerah yang tertimpa bencana seperti di Mamuju ini,” tulis Egy dalam catatannya.
Muhammad Sarwani, seorang sarjana teknik jebolan Universitas Pamulang menjelaskan hal-ihwal penggunaan garam sebagai sumber energi untuk menyalakan lampu LED tersebut. Berkat ketekunannya, pemuda kelahiran 1987 itu berhasil mewujudkan mimpinya menghadirkan cahaya di lokasi bencana melalui air garam atau garam dapur yang dilarutkan ke air.
BACA JUGA: Begini Penampakan Dampak Gempa Majene
Pengoperasian lampu ini cukup mudah. Dalam kemasannya, terdapat satu lampu, botol pencampur air garam dan air ukuran 125 cc. Di dalam kemasan juga disertakan petunjuk penggunaan yang detail.
“Hanya perlu air bersih dan garam. Garam apa saja,” kata Sarwani seraya menambahkan, “tak ada garam, air laut pun bisa. Makanya, lampu ini juga sangat cocok dipakai para nelayan.”
Hanya dengan mencampur air bersih dan sesendok garam, lampu ini mampu menyala hingga 12 jam dalam kekuatan sinar LED 1,6 watt atau setara terangnya bohlam 25 watt.
Menjelaskan bagaimana lampu tersebut bekerja, Sarwani mengatakan bahwa alat itu menggunakan teori anoda dan katoda.
“Sebenarnya dari SMP kita sudah belajar tentang katoda dan anoda,” ujar Sarwani.
Selain bisa digunakan sebagai penerangan, lampu air garam Sarwani juga bisa untuk mengisi daya ponsel, tetapi tidak bisa difungsikan secara bersamaan karena perbedaan voltase.
Lampu air garam yang diproduksi HEI ini benar-benar membantu warga yang sedang dalam pengungsian. Di saat aliran listrik terputus, kehadiran alat ini bisa memberikan penerangan dan menjadi solusi di tengah kegelapan.
“Sebelumnya, kami juga sudah memperkenalkan lampu ini di lokasi pengungsi erupsi Gunung Merapi, di Yogyakarta. Akhir tahun lalu, kami juga mengirim lampu-lampu ini ke lokasi pengungsi banjir bandang di Aceh,” katanya kepada Egy.
Sarwani berterima kasih, jika kemudian karyanya diapresiasi BNPB. Sarwani mengungkapkan bahwa pada awal 2020 dia bersua dengan Direktur Darurat BNPB Jarwansah, yang kemudian melaporkan perihal lampu garam ini ke Dody Ruswandi Deputy Darurat dan Kepala BNPB Letjen Doni Monardo.
“Rupanya ada keselarasan antara produk yang kami hasilkan dengan karakter negeri kita yang rawan bencana. Rawan bencana berulang. Lampu air garam sangat cocok di situasi darurat bencana. Tahun 2020 kami sudah diminta BNPB untuk memproduksi massal lampu air garam ini untuk kebutuhan darurat di lokasi-lokasi bencana,” ujar Sarwani.
(Rahman Asmardika)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.