Putra Mahkota MBS Didesak Bebaskan Ulama Terkemuka Saudi dari Penjara

Agregasi Sindonews.com, · Jum'at 22 Januari 2021 08:25 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 22 18 2348826 putra-mahkota-mbs-didesak-bebaskan-ulama-terkemuka-saudi-dari-penjara-mfzN9yOWKT.jpg Ulama terkemuka Arab Saudi, Sheikh Salman Al-Quda. (Foto : Middle East Monitor/Twitter)

RIYADH - Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman (MBS), didesak untuk segera membebaskan ulama terkemuka Saudi, Sheikh Salman Al-Ouda, yang telah dipenjara sejak 2017 karena menentang blokade terhadap Qatar. Desakan itu disampaikan putra Sheikh Salman Al-Ouda, Abdullah Al-Ouda.

Dia menulis seruan pembebasan itu dalam artikel di The Guardian. Dia meminta Putra Mahkota MBS menunjukkan komitmennya untuk rekonsiliasi dengan tetangga Teluk-nya yang lebih kecil dengan membebaskan apa yang dia sebut "tahanan hati nurani".

Blokade Qatar oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir diberlakukan pada Juni 2017. Terobosan datang awal bulan ini ketika Riyadh menjadi tuan rumah pertemuan puncak para pemimpin negara yang terlibat, termasuk Qatar, untuk rekonsiliasi.

Terobosan itu diikuti pembukaan perbatasan darat Arab Saudi dengan Qatar, yang membuka jalan untuk meredakan ketegangan dengan negara-negara Arab lainnya.

Abdullah Al-Ouda meminta MBS membebaskan warga Kerajaan Arab Saudi sekarang karena perselisihan Teluk telah berakhir.

Sheikh Al-Ouda adalah salah satu dari puluhan pembangkang, penulis, dan ulama yang ditahan pada pertengahan September 2017 dalam tindakan keras negara terhadap mereka yang digambarkan sebagai "bertindak untuk kepentingan pihak asing terhadap keamanan Kerajaan dan kepentingannya."

Menurut Abdullah Al-Ouda, ayahnya ditangkap karena menolak men-tweet pesan kepada 13 juta pengikutnya untuk mendukung blokade yang dipimpin Arab Saudi terhadap Qatar. Dia malah mengungkapkan keinginan untuk rekonsiliasi dengan men-tweet; "Semoga Allah menyelaraskan hati mereka untuk kepentingan rakyat mereka."

Baca Juga : Arab Saudi Bertekad Hentikan Eksekusi Mati Kejahatan Anak di Bawah Umur

Beberapa hari kemudian, petugas keamanan negara Arab Saudi menangkapnya.

Setelah ditahan tanpa dakwaan selama setahun, otoritas Arab Saudi mengajukan 37 dakwaan terhadap Sheikh Al-Ouda. Persidangannya dimulai pada September 2018 di pengadilan Kriminal Khusus, pengadilan terorisme negara itu, di Riyadh.

Tuduhan dalam persidangan yang sedang berlangsung dilaporkan mencakup kegiatan biasa seperti, "keberatan dengan boikot Qatar" dan "mengunjungi Qatar pada banyak kesempatan, termasuk pada 2015".

Baca Juga : Arab Saudi Pangkas Hukuman Mati dari 184 Menjadi 27 Eksekusi

"Karena blokade Qatar tampaknya akan segera berakhir, sudah sepantasnya orang yang berdoa untuk rekonsiliasi juga menemukan bahwa penahanannya telah berakhir," kata Abdullah Al-Ouda, seperti dikutip Middle East Monitor, kemarin (21/1/2021).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini