Dunia Catat 104 Juta Kasus dan 2,2 Juta Kematian Akibat Covid-19, Tertinggi Negara Mana?

Agregasi VOA, · Sabtu 06 Februari 2021 05:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 06 18 2357441 dunia-catat-104-juta-dan-2-2-juta-kematian-kasus-covid-19-tertinggi-negara-mana-EV1zKOCQhY.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

JOHNS Hopkins Coronavirus Resource Center, Jumat pagi 5 Februari 2021 melaporkan bahwa sekarang ada lebih dari 104 juta kasus Covid-19 di seluruh dunia dan 2,2 juta kematian akibat virus corona.

AS tetap berada di urutan teratas negara dengan kasus terbanyak, lebih dari 26 juta kasus, diikuti oleh India dengan 10,8 juta dan Brasil dengan 9,3 juta.

Para pejabat kesehatan mendesak warga AS agar tidak membuat pertandingan football tahunan Superbowl pada hari Minggu mendatang sebagai acara penyebaran virus secara besar-besaran. Para penggemar football biasanya berkumpul pada acara pesta besar di rumah atau bar dan restoran untuk menonton bersama pertandingan di televisi. Otoritas kesehatan tahun ini mendesak para fans agar menonton pertandingan itu “dengan orang-orang yang tinggal bersama mereka.”

Baca Juga: Bule Marak Langgar Prokes di Bali, Masker Disimpan hingga Ngaku Tak Bawa Uang

Beberapa wilayah di AS menghadapi kesulitan memastikan warga mereka diimunisasi secara merata. Ibu kota negara tidak terkecuali. Warga di beberapa kawasan termiskin tidak banyak yang mendapat suntikan vaksin dalam gerakan imunisasi di kota itu. Namun sekarang ini, wakil-wakil dari kantor wali kota mulai mengetuk pintu rumah para lansia di kawasan termiskin di Washington dalam upaya membuat mereka mendaftarkan diri untuk divaksinasi.

Warga Washington berusia 65 tahun ke atas berhak mendapatkan vaksinasi gratis. Di daerah-daerah lain di AS, pemerintah setempat memulai program vaksinasi mereka bagi warga berusia 75 tahun ke atas.

Direktur Kesehatan Kota LaQuandra Nesbitt mengatakan kepada harian the Washington Post bahwa tingkat harapan hidup di beberapa daerah termiskin di Washington adalah 68 tahun, sementara di permukiman kaya mencapai 89 tahun.

“Kalau kami mulai memvaksinasi individu-individu berusia 75 tahun ke atas, kami akan kehilangan kesempatan untuk menarget lingkungan yang paling terpukul oleh penyakit ini,” kata Nesbitt kepada the Post.

Selandia Baru menyatakan terbuka untuk menerima para pengungsi kembali. Langkah baru ini diambil hampir setahun setelah Selandia Baru menutup pintunya bagi orang-orang asing pada Maret lalu karena pandemi Covid-19.

Fiona Whiteridge, manajer umum kantor layanan migran dan pengungsi Selandia Baru mengemukakan dalam sebuah pernyataan, “Dengan protokol kesehatan dan jalur perjalanan yang aman, kami siap untuk menerima kelompok-kelompok kecil keluarga pengungsi sebagai penduduk Selandia Baru, untuk memulai hidup baru mereka.”

Menurut Hopkins, Selandia Baru memiliki 2.315 kasus Covid, dan hanya 25 kematian akibat virus itu.

Baca Juga:  GeNose untuk Penumpang KA, Epidemiolog: Berpotensi Terjadinya False Negatif

Pfizer memberitahu Reuters dalam sebuah pernyataan hari Jumat 5 Februari bahwa pihaknya telah menarik permohonannya di India bagi penggunaan darurat vaksin Covid-19 yang dikembangkannya bersama dengan perusahaan Jerman BioNTech.

Pfizer tidak melakukan uji coba vaksinnya di India, suatu langkah yang biasanya dipersyaratkan oleh India. Keputusan mundur Pfizer itu muncul setelah pertemuannya awal pekan ini dengan regulator obat India, Central Drugs Standard Control Organization.

Regulator obat menyatakan vaksin Pfizer tidak direkomendasikan karena tidak ada data dari uji coba di India dan karena adanya laporan mengenai efek samping vaksin dalam penggunaannya di luar negara itu.

Pfizer menyatakan akan “mengajukan kembali permohonan persetujuan dengan informasi tambahan apabila sudah tersedia dalam waktu dekat.”

Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India melaporkan 12.408 kasus baru virus corona, Jumat 5 Februari.

Menteri urusan vaksin Inggris baru-baru ini mengatakan ada sekitar 4.000 varian virus corona di seluruh dunia. Namun, jelas Nadhim Zahawi, sebuah vaksin untuk melawan “varian yang benar-benar sangat kita khawatirkan” dapat dikembangkan dalam 30 hingga 40 hari, dan selanjutnya akan diproduksi massal, sebut sebuah laporan di The Guardian.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini